Home » Muda

Dahnil Anzar: Jenazah Koruptor Enggak Perlu Disalatkan

print this page Sabtu, 11/11/2017 | 06:20

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyatakan jenazah koruptor tak perlu disalatkan. Dia lantas membandingkan dengan pengalaman Rasul yang enggan menyalatkan salah satu jenazah, lantaran mengambil harta rampasan perang Khaibar.

"Dua tahun lalu di Muktamar Muhammadiyah, saya bilang, 'Jenazah koruptor enggak perlu disalatkan'. Dalam hadis, Rasul pernah tolak menyalatkan jenazah sahabat, karena saat itu, pas perang, jenazah itu ambil barang-barang perang," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Peristiwa tersebut, sambung Dahnil, juga menunjukkan kelompok agama berperan penting dalam memberantas korupsi sesuai konsep tauhid. "Tidak sah ibadah seorang muslim, kalau dia makan uang hasil korupsi," tegasnya mengutip salah satu bunyi hadis.

Sayangnya, ungkap dosen Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten ini, banyak masyarakat yang lebih sensitif pada hal-hal simbolis, dibanding substansial.

"Contohnya, enggak ada dai yang berani ceramah tentang korupsi. Apalagi, di masjid-masjid pemerintah," kritik jebolan STIE Ahmad Dahlan Jakarta itu. Padahal, kata dia, melawan korupsi merupakan ibadah yang substansi.

Gaya Hidup
Karenanya, Dahnil mendorong generasi milenial, agar memegang teguh prinsipnya. Salah satunya, menjadikan antikorupsi sebagai gaya hidup. "Bagi anak muda, harusnya antikorupsi jadi lifestyle (gaya hidup). Enggak korupsi itu keren. Idealis itu keren," jelasnya.

Eks Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Banten ini menambahkan, jihad terbesar adalah melawan nafsu. Dan baginya, kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan merupakan jihad kecil.

"Jadi, perang saat itu, masih jihad kecil. Jihad besarnya, itu mengisi kemerdekaan. Salah satunya, melawan korupsi," tandas Dahnil.

 

Penulis Fatah H Sidik

Tags:

Pemuda MuhammadiyahDahnil Anzar SimanjuntakKorupsiPerang Khaibar

loading...