logo rilis

CORE: Rupiah Lebih Pengaruhi Impor daripada Dorong Ekspor
Kontributor
Elvi R
22 Mei 2018, 15:07 WIB
CORE: Rupiah Lebih Pengaruhi Impor daripada Dorong Ekspor
Mata Uang Rupiah. FOTO: RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Muhammad Faisal menyebut, pelemahan Rupiah lebih banyak mempengaruhi peningkatan impor daripada mendorong ekspor. Pasalnya, ketergantungan impor industri dalam negeri yang tinggi.

"Sehingga ketika pelemahan Rupiah terjadi dan barang impor jadi lebih mahal tidak lantas impornya dikurangi karena kita butuh. Sementara, ke ekspor Rupiah yang lebih murah tidak banyak membantu, karena sebagian besar ekspor kita adalah komoditas yang lebih terpengaruh harga," ujar Faisal kepada rilis.id, di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Lebih lanjut, dia bertutur, dampak pertama pelemahan Rupiah akan langsung dirasakan pada biaya impor, tinggi baik bagi industri maupun rumah tangga. Padahal, banyak industri domestik yang sangat bergantung pada komponen impor, sehingga pelemahan Rupiah akan menaikkan biaya produksi yang akan menekan daya saing industri.

"Jika produk akhir juga dinaikkan oleh pelaku usaha, akan menaikkan barang-barang yang dikonsumsi masyarakat di dalam negeri, dan mendorong inflasi dalam negeri," jelasnya.

Faisal mengatakan, bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM) akan mengalami kenaikan. "Bagi neraca perdagangan  pelemahan Rupiah akan mendorong defisit," imbuh Faisal.

Oleh karenanya, dia meminta dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu memaksimalkan upaya menstabilkan nilai tukar Rupiah dengan berbagai instrumen yang ada. Dalam jangka menengah dan panjang perlu segera membuat kebijakan capital control, agar dana yang masuk tidak dengan mudah keluar.

"Pemerintah juga harus meningkatkan upaya memperkuat neraca transaksi berjalan, khususnya mencari terobosan untuk percepatan peningkatan daya saing ekspor barang dan jasa. Mengurangi ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor," pungkasnya.

Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi (22/5/2018) bergerak melemah sebesar 78 poin menjadi Rp14.181 dibanding posisi sebelumnya Rp14.103 per Dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, sentimen mengenai kesepakatan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok membuat Dolar AS kembali meningkat di pasar global. Akibatnya, Rupiah terkena dampaknya dan kembali melemah.

"Masih dominannya sentimen eksternal membuat laju dolar AS kembali terapresiai dan rupiah kehilangan momentum untuk terapresiasi," kata Reza, di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Dia menambahkan, imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang berada di atas level 3 persen juga masih menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang domestik.

"Rupiah diestimasikan akan bergerak di kisaran Rp14.169-Rp14.189 per dolar AS pada hari ini (22/5)," katanya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)