logo rilis
Combine Multikomoditas, Si Mesin Panen yang Mudahkan Petani
Kontributor

25 Juni 2018, 15:30 WIB
Combine Multikomoditas, Si Mesin Panen yang Mudahkan Petani
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Kebutuhan akan penggunaan mesin panen, khususnya jagung sudah tidak bisa ditunda lagi seiring berkurangnya tenaga panen di daerah.

Karena itu, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) membuat Combine Multikomoditas.

Menariknya, combine ini juga bisa digunakan dalam pemanenan padi sehingga lebih efektif.

Selama ini, proses pemipilan menjadi bagian kritis dalam pascapanen jagung dan potensi kehilangan hasilnya bisa mencapai 8 persen.

“Proses pemanenan umumnya juga dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama dan tenaga kerja yang tidak sedikit. Jadinya agak sulit untuk memenuhi kebutuhan permintaan jagung yang tinggi,” ungkap perekayasa mesin dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Sigit Triwahyudi.

Karena itu, BBP Mektan mengadopsi mesin panen melalui kegiatan redesign dan reversed engineering dari mesin combine panen mesin padi.

Modifikasi pada bagian pengarah (reel guide), pisau statis, perontok (threshing) dan bagian pembersih (cleaning) dengan menggunakan bantuan software CAD.

Prinsip kerja mesin combine harvester melalui beberapa tahapan yaitu menggaet dan mengarahkan tanaman menuju bagian pemotong (reel), memotong batang jagung (cutting platform), merontokkan bulir jagung dari tongkolnya (threshing), memisahkan jagung dan kotoran (separation and cleaning) dan memotong atau menghancurkan batang jagung (chopping).

Mesin ini memiliki spesifikasi dimensi 4.350x2.270x2.280 milimeter dengan bobot 2.150 kilogram, lebar kerja 160 centimeter denggan 3 baris pemotongan tanaman jagung, tenaga penggerak motor diesel 43 HP, serta menggunakan roda krepyak (crawler) dari karet sehingga cocok digunakan untuk lahan agak basah maupun lahan kering.

Hasilnya, mesin pemanen ini mampu digunakan selama 5 hingga 10,56 jam per hektare pada kecepatan kerja 1,1 hingga 1,50 kilometer per jam, tingkat kebersihan antara 96,03 hingga 99,74 persen, tingkat kerusakan biji antara 0,52 hingga 1,70 persen dan susut hasil (losses) berkisar antara 2,50 hingga 2,79 persen.

Modifikasi Kedua

Meskipun telah berhasil membuat mesin combine yang efisien, perekayasa dari BPP Mektan terus berusaha membuat modifikasi mesin combine yang lebih efisien.

Dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas kerja di bawah 6 jam per hektare dengan mempercepat kecepatan maju combine di atas 2 kilometer per jam.

“Kita sebut mesin pertama itu sebagai prototipe 1 dan kita sedang buat prototype 2 dengan modifikasi tertentu,” tuturnya.

Adapun Modifikasi pada prototipe II dilakukan dengan mengganti pisau statis dengan memajukan posisi cutter bar 400 milimeter dari posisi awal.

Alat ini kemudian dilakukan ujicoba untuk mengetahui kinerja mesin secara nyata di lapangan dengan beberapa kondisi lahan yang berbeda.

Uji kinerja prototipe mesin panen dilakukan di Jawa Tengah dan Banten. 

Pada pengujian unjuk kerja di Klaten (Jateng), pada kondisi kadar air jagung 25,27 persen, didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,09 jam per hektare pada kecepatan kerja 2,24 kilometer per jam, dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 99,66 persen tingkat kerusakan biji 1,20 persen dan susut hasil (losses) sebesar 2,58 persen.

Sedangkan dari uji di Grobogan (Jateng) dihasilkan kondisi kadar air jagung 24,95 persen dengan kondisi jagung dipotong pucuknya.

Didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,36 jam per hektare pada kecepatan kerja 2,22 kilometer per jam dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 99,47 persen, tingkat kerusakan biji 1,29 persen dan susut hasil (losses) sebesar 2,84 persen. 

Pada pengujian di kabupaten Serang Banten pada kondisi kadar air jagung 28,5 persen dengan kondisi tanaman jagung masih ada pucuknya.

Didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,77 jam per hektare pada kecepatan kerja 2,14 kilometer per jam,  dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 97,70 persen tingkat kerusakan biji 1,70 persen dan susut hasil (losses) sebesar 2,92 persen.

Pada Prototipe II ini, Combine juga bisa digunakan untuk memanen padi tanpa perlu dilakukan modifikasi. Ketika digunakan untuk memanen padi dengan kadar air sebesar 22,6 persen dan kecepatan kerja pemanenan rata-rata 2,47 kilometer per jam didapatkan kapasitas kerja sebesar 4,19 jam per hektare, susut hasil 2,47 persen dan tingkat kebersihan 98,5 persen. 

Teknologi ini telah siap dikembangkan dikomersialisasikan dengan bekerja sama dengan 3 perusahaan mitra lisensi PT. Rutan, CV. Adi Setia Utama Jaya dan PT. Bhirawa Megah Wiratama.

Sumber: Sigit Tri Wahyudi




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID