logo rilis
Cerita tentang Pondok Kopi, Malabar dan Wabah Hama
Kontributor
Yayat R Cipasang
03 April 2018, 21:45 WIB
Cerita tentang Pondok Kopi, Malabar dan Wabah Hama
Petani kopi di zaman kolonial. FOTO: Istimewa

PONDOK Kopi di Jakarta Timur tidak menyisakan sedikit pun tanaman kopi. Padahal pada zaman kolonial wilayah yang kini padat penduduk, bising dan mulai ditumbuhi beton menjulang dikenal sebagai daerah pembibitan kopi sebelum di sebar ke seluruh Indonesia.

Seperti disitat dari laman kopimalabarindonesia.com, Indonesia dikenal sebagai salah satu negeri penghasil kopi terbaik di dunia. Istilah 'a cup of Java' terkenal di Eropa sebagai secangkir kopi yang identik dengan pulau Jawa. Kawasan Priangan merupakan tempat pertama pengembangan perkebunan kopi di Indonesia.

Catatan sejarah menunjukkan, tahun 1696 Walikota Amsterdam Nicholas Witsen, memerintahkan komandan pasukan Belanda di Malabar, India, Adrian Van Ommen, untuk membawa bibit kopi arabika ke Nusantara. Tetapi bibit pertama ini gagal tumbuh karena banjir. 

Usaha pengembangan kopi kedua dilaporkan terjadi pada tahun 1699. Percobaan pertama dilakukan di daerah Pondok Kopi, Batavia. Setelah tumbuh dengan baik di sana, Belanda mendirikan perkebunan kopi pertama di daerah Priangan, Jawa Barat, dengan sistem tanam paksa. 

Setelah pengembangan kopi hampir di seluruh Pulau Jawa pada tahun 1750, Belanda mulai mengembangkan perkebunan kopi arabika di Sumatra, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Timor.

Pada 1711, kongsi dagang Belanda Verininging Oogst Indies Company (VOC) yang didirikan pada 1602 melakukan ekspor pertama ke Eropa. VOC memonopoli perdagangan kopi tahun 1725 sampai 1780. 

Pulau Jawa adalah tempat pertama kali kopi dibudidayakan secara luas di luar Arab dan Ethiopia. Tercatat pada tahun 1725, Nusantara merupakan kawasan pengekspor kopi terbesar di dunia yang sebagian besar produksinya berasal dari pulau Jawa.

VOC membuat perjanjian berat sebelah dengan penguasa setempat. Pribumi diwajibkan menanam kopi yang hasilnya harus diserahkan ke VOC. Perjanjian ini disebut koffiestelsel (sistem kopi). Biji kopi berkualitas tinggi dari tanah Jawa Barat pun membanjiri Eropa. 

Kopi Java Preanger saat itu begitu terkenal di Eropa sehingga orang-orang Eropa menyebutnya bukan secangkir kopi, melainkan secangkir Jawa (a cup of Java). Sampai pertengahan abad ke-19 kopi Java Preanger adalah yang terbaik di dunia.

Sistem perdagangan kopi terus berlangsung meskipun kemudian VOC dibubarkan. Ketika Hermann Willem Daendels (1762-1818) memerintah, ia membangun jalan dari ujung barat pulau Jawa sampai ujung timur, Anyer sampai Panarukan. Tujuannya untuk memudahkan transportasi prajurit Belanda dan surat-menyurat di tanah Jawa. 

Alasan lainnya tentu saja untuk mempercepat biji kopi dari ujung timur pulau Jawa mencapai pelabuhan di Batavia yang selanjutnya dikapalkan ke Belanda untuk dijual ke Eropa.

Penderitaan akibat koffiestelsel kemudian berlanjut dengan cultuurstelsel alias sistem tanam paksa. Melalui sistem tanam paksa yang diciptakan Johannes van den Bosch (1780-1844) ini, rakyat diwajibkan menanam komoditi ekspor milik pemerintah, termasuk kopi pada seperlima luas tanah yang digarap, atau bekerja selama 66 hari di perkebunan-perkebunan milik pemerintah. 

Akibatnya, terjadi kelaparan di tanah Jawa dan Sumatra pada tahun 1840-an. Namun, berkat cultuurstelsel itu, pulau Jawa menjadi pemasok biji kopi terbesar di Eropa. Di antara tahun 1830-1834 produksi kopi arabika Jawa mencapai 26.600 ton, selang 30 tahun kemudian produksi kopi tadi meningkat menjadi 79.600 ton.

Perdagangan kopi sangat menguntungkan bagi VOC, tetapi sedikit manfaatnya untuk petani Indonesia yang dipaksa menanamnya oleh pemerintah Kolonial Belanda. Secara teori, memproduksi komoditas ekspor berarti menghasilkan uang bagi penduduk Jawa untuk membayar pajak mereka. 

Cultuursstelsel untuk kopi diterapkan di daerah Praenger Jawa Barat, pada praktiknya harga untuk komoditas utama pertanian ini di-setting rendah yang menyebabkan situasi berat bagi petani.

Kejatuhan kopi Jawa dimulai ketika serangan penyakit karat daun melanda pada tahun 1878. Setiap perkebunan di seluruh Nusantara terkena hama penyakit kopi yang disebabkan oleh Hemileia Vasatrix. Jawa Barat merupakan wilayah terparah akibat serangan hama penyakit karat daun. 

Wabah ini membunuh semua tanaman arabika yang tumbuh di dataran rendah. Kopi arabika yang tersisa hanyalah yang tumbuh di lahan setinggi 1.000 meter di atas permukaan laut.

Dampak hama 140 tahun lalu ini terasa sampai sekarang. Tanaman kopi Indonesia yang dulu didominasi jenis arabika kini sebaliknya 70 persen produk kopi Indonesia jenis robusta.


500
komentar (0)