logo rilis
Cerita Mbak Tutut Jelang Soeharto Lengser
Kontributor
Yayat R Cipasang
22 Mei 2018, 00:16 WIB
Cerita Mbak Tutut Jelang Soeharto Lengser
Siti Hardiyanti Rukmana. FOTO: tututsoeharto.id

BERTEPATAN dengan 20 tahun reformasi, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut menuliskan kisah ketika sang ayah, Presiden Soeharto meletakkan jabatannya tepat 21 Mei 1998. Jenderal Besar Soeharto yang dikenal dengan Trilogi Pembangunannya lengser setelah 32 tahun berkuasa.

Dalam tulisan Mbak Tutut yang juga putri sulung Soeharto yang diterima rilis.id, Senin (21/5/2018), mengisahkan pada saat Soeharto memutuskan untuk berhenti dari jabatan Presiden karena desakan sejumlah masyarakat dan para politisi. Soeharto memanggil dan mengumpulkan anak-anaknya dan menyampaikan niatnya tersebut. 

"Kami terus terang pada saat itu agak tidak rela kenapa Bapak yang sudah bekerja seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini diperlakukan demikian. Kami memohon Bapak untuk menunda dulu keputusannya," ujar Tutut.

“Untuk apa?” ujar Soeharto.

“Bapak itu pendukungnya juga banyak sekali, mereka pun siap untuk maju.”

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Mereka siap turun ke jalan dan akan melawan demonstrasi yang sekarang berlangsung Pak.”

“Apa yang kamu dapat setelah itu?”

“Untuk menunjukkan bahwa Bapak tidak salah, Bapak tidak sendiri dan rakyat banyak yang masih loyal dengan Bapak.”

“Sadarkah kalian setelah mereka (pendukungmu/yang mendukung Bapak) turun ke jalan, akan banyak lagi korban. Tidak!"

Kemudian Soeharto melanjutkan, "Bapak tidak mau itu terjadi, hanya untuk mempertahankan kedudukan Bapak dan semakin banyak lagi korban akan berjatuhan," ujarnya.

Anak-anaknya terdiam

"Lebih baik Bapak berhenti, kalau memang sudah tidak dikehendaki untuk menjadi Presiden. Kalian harus merelakan semua ini. Percayalah bahwa Allah tidak tidur," ujar Soeharto.

Kembali Soeharto dengan suara terbata-bata-bata berujar, "Dan satu hal Bapak minta pada kalian semua, jangan ada yang dendam dengan kejadian ini dan jangan ada yang melakukan balas dendam, karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah.”

Kembali semua anak-anak terdiam.

“Lagi pula kalau kamu balas dendam, belum tentu akan mengubah hidup kalian jadi lebih baik, yang ada malah mereka yang kalian balas itu belum tentu juga mau menerima dan mereka akan membalas lagi," ujarnya.

"Masalah pun tidak terselesaikan, malah yang terjadi permusuhan berkepenjangan, sampai kapan, tak ada yang tau. Bersabarlah anak-anakku, karena orang sabar disayang Allah.”

Anak-anak Soeharto terenyak. Mbak Tutut pun meneteskan air mata. Suasana haru menyelimuti keluarga.

"Aku bersyukur ya Allah karena kau takdirkan Beliau jadi bapakku. Apa pun kata orang tentang Bapak, beliau salah seorang Putra Bangsa Yang Terbaik bagi kami," ujar Mbak Tutut lirih.


500
komentar (1)

Limpat Agrokimia Selasa, 22 Mei 2018 | 09:26
Tohar salah satu putra terbaik bangsa. Yang memimpin negara ini telah membuktikan diri bertahan n melawan barat dan timur. Salam utk Bliau.