Home » Elektoral

Cendekiawan Muslim: Pilkada 2018 Parpol Perbanyak Saham, Rakyat Bingung

print this page Selasa, 14/11/2017 | 21:51

Cendekiawan Muslim Indonesia, Komaruddin Hidayat. FOTO: RILIS.ID/Taufiq Saifuddin

RILIS.ID, Jakarta— Cendekiawan Muslim Indonesia Komaruddin Hidayat menekankan, gempita Pilkada 2018 harusnya tidak bertumpu pada suksesi calon yang digaungkan partai politik saja. 

Ini artinya, fokus masyarakat diarahkan ke ujung masalah dan bukan pangkal masalah demokrasi yang sesungguhnya.

"Sebagai catatan untuk Pilkada 2018, kepercayaan pada demokrasi itu menurun karena kekecewaan masyarakat kepada parpol. Padahal kita sudah sepakat, demokrasi sebagai pilihan. Sementara praktek parpol kita masih menyuguhkan ide soal dinasti dan ide soal khilafah," ujar Komar kepada rilis.id, saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selas (14/11/2017).

Menurutnya, demokrasi meniscayakan peran parpol, sementara parpol sendiri terbilang itu rapuh dan lemah. Problem inilah yang harus segera diurai oleh partai politik dalam konteks Pilkada.

"Kan kita bisa lihat sendiri, jelang pilkada ini parpol itu kan ke bawah tidak solid membina massanya. Lalu ke atas juga tidak mampu memberikan kader yang terbaik untuk diusung sebagai calon, belum lagi program yang solutif. Ditambah lagi, parpol kemudian tidak memiliki ideloginya jelas," paparnya dengan sangat serius.

Akhirnya, terang Komar, dengan fakta demikian itu, Pilkada 2018 nantinya tidak ubahnya sebatas ceremony dan rebutan jabatan. Hal ini tentu jauh dari spirit demokrasi yang menjadi pilihan politik.

"Faktanya kan begitu, tidak menutup kemungkinan Pilkada 2018 ya hanya sebatas perayaan dan perebutan jabatan saja. Lalu parpol itu kayak memperbanyak saham dan suara. Akhirnya rakyat makin bingung, di satu tempat dua parpol bermusuhan di tempat lain berkoalisi," tukas Komar dengan tertawa sambil menggeleng.

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Syahrul Munir

Tags:

Pilkada 2018ParpolCendekiawan MuslimDemokrasi Menurun

loading...