logo rilis
Cendawan Beauveria Bassiana Mampu Kendalikan Serangga
Kontributor
Kurniati
25 Mei 2018, 15:10 WIB
Cendawan Beauveria Bassiana Mampu Kendalikan Serangga
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Cendawan Beauveria Bassiana merupakan salah satu dari sekian banyak jenis/spesies yang bersifat entomopatogen, yaitu patogen (penyebab penyakit) pada serangga.  

Entomopatogen ini tidak hanya dari kelompok cendawan, tetapi ada dari kelompok bakteri seperti Bacillus thuringiensis, dari kelompok virus seperti Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) dan dari kelompok nematoda (cacing) seperti Steinernema sp.  

Beauveria, telah banyak diinformasikan efektif membunuh berbagai jenis serangga hama seperti WBC, pengerek batang padi, kepinding tanah, walang sangit, kumbang kelapa, penggerek buah kakao, rayap dan masih banyak lainnya. 

Ciri serangga yang terserang cendawan ini akan mengalami mumifikasi dengan tubuh yang diselimuti oleh miselium. 

Mengingat banyaknya jenis hama sasaran yang dapat dikendalikan oleh Beauveria, maka prospek pengembangan entomopatogen ini cukup baik. 

Di pasaran telah banyak dikenal pestisida hayati berbahan aktif Beauveria. Namun, harganya cukup bersaing dengan pestisida kimia. 

Apabila sobat tani tertarik untuk mengembangkannya, biaya yang diperlukan lebih murah dan mudah untuk dilakukan dengan peralatan dan bahan yang sederhana.

Berikut cara memperbanyak Beauveria:

Pertama, sobat tani menyiapkan media perbanyakan bisa dari dedak halus, serbuk gergaji, jagung pecah, atau beras. Berdasarkan penelitian, media yang terbaik adalah dari beras atau menir. 

Beras dicuci bersih kemudian direndam selama 15 menit, kemudian ditiriskan dan di angin-anginkan semalam. 

Jika beras dikepal tidak menempel pada tangan namun masih terasa lembab, maka beras siap digunakan. Masukkan 200 gram beras tersebut ke dalam plastik tahan panas dan ujung plastik dilipat, selanjutnya dikukus selama 2 jam. Setelah 2 jam dikukus, angkat dan dinginkan.

Kedua, siapkan starter Beauveria bisa didapatkan di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/LPHP Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Banten dan media perbanyakan yang telah siap digunakan. Selanjutnya starter diinokulasikan (ditanam) ke dalam media beras. Inokulasi dilakukan di dalam box incase yang dapat dibuat dari kayu atau kaca. 

Hal ini dilakukan untuk menghindari resiko kontaminan dari udara dan sekitarnya. Starter ukuran 200 gram dapat digunakan untuk 20 bungkus media. Pastikan kotak, alat-alat yang digunakan dan tangan pekerja disemprot dahulu dengan alkohol. 

Saat menginokulasikan starter ke dalam media perbanyakan, usahakan ujung plastik yang terbuka berada di dekat api bunsen atau lilin yang diletakkan dalam kotak. 

Setelah diinokulasi, lipat ujung plastik dan inkubasikan (diperam) selama 2 minggu pada suhu kamar. 

Setelah 2 minggu cendawan akan memenuhi media biakan dan siap untuk digunakan. 

Pada kondisi tersebut, kerapatan spora minimal telah mencapai 106 per mili liter.

Aplikasi Beauveria ini tidaklah rumit hampir sama dengan penggunaan pestisida kimia yaitu disemprotkan menggunakan sprayer

Sebelumnya, siapkan ember bersih dan masukkan  1 bungkus Beauveria campur dengan 1 liter air. Kemudian, beras/menir tersebut digosok-gosok dengan tangan dan disaring. 

Cairan berisi spora cendawan tersebut dimasukkan ke dalam tangki sprayer dan tambahkan air hingga volume mencapai  14 liter dan diaduk rata. 

Larutan siap disemprotkan pada tanaman. Satu liter larutan Beauveria tersebut dapat digunakan untuk 3 tangki penyemprot. Volume semprot yang dibutuhkan adalah 400-500 liter air per hektare, sehingga dosis pemakaian Beauveria cukup 2 kilogram (10 bungkus) per hektare.

BPTP Banten bekerjasama dengan LPHP (BPTPH) Provinsi Banten dan Kelompok Penyedia Agen Hayati, melakukan perbanyakan Beauveria menggunakan media beras. 

Isolat yang telah diinkubasikan selama 2 minggu diaplikasikan ke lahan sawah pada lokasi pengkajian pengendalian WBC di Kelompok Tani Jaya Mukti, Desa Pulo Kencana, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang dan Kelompok Tani Suka Bungah Desa Rahong Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak. 

Aplikasi Beauveria merupakan salah satu komponen teknologi pengendalian WBC yang dikaji pada kedua lokasi tersebut. 

Selain aplikasi Beauveria, juga dilakukan penanaman refugia di pematang sawah untuk meningkatkan biodiversitas hayati termasuk musuh alami WBC. 

Harapan dari pengkajian ini, petani dapat lebih memahami konsep pengendalian hama khususnya WBC secara terpadu sehingga pengendalian dapat dilakukan secara efektif, efisien dan berwawasan lingkungan.
 

Sumber: Sri Kurniawati


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)