logo rilis
Cegah 'Stunting', Menkes: Perempuan Belajar Pola Asuh Anak
Kontributor
Kurniati
07 April 2018, 06:00 WIB
Cegah 'Stunting', Menkes: Perempuan Belajar Pola Asuh Anak
Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Kesehatan, Nila Moeloek menegaskan, perempuan Indonesia harus berpengetahuan, khususnya di bidang kesehatan mengenai tumbuh kembang anak untuk mencegah kelahiran generasi kerdil atau stunting.

"Artinya perempuan harus berpengetahuan. Saya sangat mendukung status perempuan itu dinaikkan," kata Nila, di Jakarta, Sabtu (7/4/2018).

Sejak sebelum menikah dan melahirkan anak, perempuan harus mengetahui tentang pola asuh, terutama pengetahuan tentang kesehatan anak, guna menghindari kasus stunting.

"Kenapa? karena kita harus tahu bagaimana mendidik anak, menjaga kesehatan anak, bagaimana cara kita memberi ASI, inisiasi menyusui dini, IMD kita harus mengerti, kenapa ASI ekslusif, cara berikan ASI, apa itu stunting. Saya kira pendidikan pengetahuan perempuan itu penting sekali," kata Nila.

Data Kementerian PPN-Bappenas tercatat sebanyak 9 juta anak Indonesia mengalami kondisi gagal tumbuh atau kekerdilan. 

Kasus kekurangan gizi kronis akibat tidak terpenuhi gizi anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan menyebabkan pertumbuhan fisik dan otak anak terhambat.

Dari sisi ekonomi, Kementerian PPN-Bappenas memprediksi kerugian ekonomi akibat masalah kekerdilan pada anak saat ini bisa membuat kerugian ekonomi bagi negara sebesar 2 hingga 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun.

Persentase tersebut apabila dinilai berdasarkan PDB 2017 sebesar Rp13.000 triliun pada 2017, maka diperkirakan potensi kerugian akibat kasus kekerdilan bisa mencapai Rp300 triliun per tahun.

Karena itu, pemerintah fokus menyelesaikan permasalahan kekerdilan pada anak melalui lintas sektor yang mempengaruhi terjadi kasus kekerdilan pada anak.
 

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)