logo rilis
Cegah Dampak Perang Dagang Gobal, Ekonom Minta Pemerintah Lakukan Ini
Kontributor
Elvi R
11 Juli 2018, 16:00 WIB
Cegah Dampak Perang Dagang Gobal, Ekonom Minta Pemerintah Lakukan Ini
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Perang tarif antara Amerika Serikat dan China diprediksi akan memicu kekacauan global. Meski investor internasional belum menunjukkan responsnya, tapi dalam jangka panjang perang tarif tidak akan membawa kebaikan. Perang tarif ini juga diprediksi bakal berimbas ke tarif produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara meminta pemerintah melakukan berbagai pencegahan untuk mengurangi imbas perang dagang yang digulirkan AS. 

"Untuk langkah antisipasi dari sisi ekspor memang kita harus terus dorong pasar pasar non tradisional. Kalau pasar di AS dan China terganggu bisa lempar produk ekspor ke negara lain yang lebih prospektif," ujar Bhima kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Menurutnya, misi dagang dari Indonesia harus ditingkatkan. Bahkan, peran duta besar dan atase perdagangan harus diperbesar. "Misalnya ditarget duta besar hrus bisa naikan ekspor di negara penempatan minimum 10 persen per tahun, ada kontraknya kalau gagal ya ditarik pulang ke indonesia," katanya.

Dari sisi impor, lanjutnya, perlu pengendalian dan pengawasan yang ketat, terutama impor barang dari China. Karena, ada risiko China mengalihkan kelebihan output produksinya ke Indonesia, dengan perhitungan pasar yang besar. 

"Belum ada perang dagang saja impor sudah bengkak," ungkapnya.

Bhima menyebut, selain industri yang butuh bahan baku impor, penyebab impor bengkak adalah proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan BUMN. Indikasinya Impor mesin dan mekanik tumbuh 31,9 persen (yoy) selama Jan-Mei 2018. Impor mesin dan peralatan listrik naik 28,16 persen (yoy) dan besi baja 39 persen (yoy).

"Kalau mau mengurangi impor kewajiban TKDN proyek infrastruktur disarankan jadi 60-70 persen. BUMN kurangilah impornya," tandasnya.

Seperti diketahui, genderang perang dagang yang ditabuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah dibunyikan sejak Jumat (6/7/2018), pukul 00:01 waktu Washington D.C. Presiden Trump memberlakukan tarif baru bagi saingannya, yakni China sebesar US$34 miliar atau Rp489,6 triliun dalam Rupiah. 

Tidak mau kalah, China juga melakukan hal yang sama. Negara tirai bambu membalas AS dengan memberlakukan tarif dengan besaran yang sama, yakni US$34 miliar ke 545 produk impor AS. Di lansir dari BBC sontak mulai dari mobil hingga kedelai terdampak tarif tersebut.


komentar (0)