Home » Fokus

'Cashless Society' Membanjiri Transaksi

print this page Jumat, 5/1/2018 | 13:54

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

"ENGGAK isi 'ojek' pay (disamarkan) sekalian, bang?" tanya pria di balik helm hijau yang separuh wajahnya masih tertutup buff masker. 

Saya hanya melempar senyuman kecil sambil menggelengkan kepala. "Saya antikapitalisme, bang!" ujar saya melempar candaan kosong.

Hendra, namanya tercantum dalam aplikasi, yang sekarang tertawa. Matanya kelihatan menyempit. 

'Ojek' pay adalah pembayaran dengan non tunai. Aplikasi ojol (ojek online) ini memberikan kemudahan transaksi yang bersifat kekinian. Kelebihannya adalah promosi (diskon) dan tak repot "kembalian".

Uniknya, saat ini para driver diberikan akses untuk mengisi saldo konsumen sehingga tak perlu repot-repot lewat fasilitas perbankan.

"Gini bang, kalau saya pakai 'ojek' pay, saya kan bayarnya bukan uang cash. Nah, kalau pas abang di tengah jalan ban motornya bocor, gimana? Kebetulan abang enggak pegang duit, apa ke ATM dulu? atau tambal ban bisa dibayar pake saldo abang?" tanya saya balik. Iseng.

Ia cuma mengangguk. Saya merasa menang. Ada kepuasan batin tersendiri karena sukses mendoktrin abang-abang driver ojek online itu.

Selang beberapa menit, giliran saya yang terdiam. Mau sampai kapan jadi orang "jadul"? tanya saya membatin. 

Semua transaksi pembayaran sudah menggunakan metode uang elektronik. Lihat saja, Kereta Commuterline, Bus Transjakarta, bahkan terakhir pada gerbang toll otomatis (GTO) kawasan Jabodetabek.

Kalau udah begini, susah mengelak dari modernisasi. Pola transaksi zaman now kayaknya emang enggak bisa dihindari.

Ilustrasi cara berpikir di 'zaman now'. FOTO: Net.

Recehan Berganti Kartu

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengamini langgengnya pembayaran cashless di Indonesia. Karena, semakin berkembang juga yang namanya industri financial technology (Fintech) di dalam negeri.

Jauh sebelum layanan ojek berbasis daring ini hadir di ruang publik, pada Januari 2013 Bus Transjakarta sudah mengawalinya. Jadi, harus bikin kartu di sejumlah bank (malahan minimarket), lalu top up saldo sebagai ongkos.

Hal serupa kemudian juga diikuti Kereta Commuterline. Per Juli 2013, layanan transportasi massal ini menerapkan sistem e-tikcet.

Terakhir pada Oktober 2017, seluruh gerbang toll efektif mengoperasikan GTO. Mau gak mau, para pengguna jalan tersebut harus mengantungi kartu e-toll sebagai alat pembayaran.

Kaum-kaum milenial tampaknya membuka diri dengan hal-hal beginian. Meski beralih ke transaksi non tunai, mereka malas menggaungkan protes gede-gedean. Lihat saja, Bus Transjakarta tak pernah sepi penumpang, apalagi Kereta Commuterline. Dan, jalan toll sendiri, jarang sekali lenggang.

"Karena sistem pembayaran akan membangun sejumlah pilar strategis, di antaranya elektronifikasi yang menciptakan layanan non tunai aman, cepat, dan efisien sehingga memberi nilai tambah bagi masyarakat," kata Mirza.

Ketentuan uang elektronik memang sudah baku. Tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia No. 16/8/PBI/2014 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik.

Kebijakan tersebut lahir karena digitalisasi di sektor finansial. Belum lagi perilaku kaum milenial yang selalu ingin praktis. Dari sana, muncul kelompok yang dijuluki cashless society.

Merujuk data BI, nilai transaksi uang elektronik periode Januari-Oktober 2017 naik 60 persen menjadi Rp8,77 triliun, sedangkan di waktu yang sama pada tahun sebelumnya baru mencapai Rp5,48 triliun.

Demikian pula uang elektronik yang beredar di masyarakat. Kini tumbuh 48 persen menjadi 75 juta unit dari 51,2 juta unit pada tahun lalu.

Di Amerika sendiri, tercatat hanya 7 persen warganya yang masih menggunakan uang fisik untuk keperluan sehari-hari. Pun hanya receh sekedar membeli koran, atau makanan kecil. Selebihnya, "gesek", transfer atau nge-tap.

Kebiasaan ini ternyata bukan hanya menjangkit pada sistem transaksi saja. Kawula modern lebih suka memenuhi kebutuhan atau keinginannya terhadap sesuatu lewat cara gampang. Yakni e-commerce.

Belanja jadi lebih ringkes. Cukup buka henpon, kemudian "tongkrongin" deh media sosial atau situs-situs "jualan". Bayarnya transfer, ga perlu kemana-mana, entar barang di antar. Selesai.

Ilustrasi belanja online. FOTO: Net

Beralihnya gaya hidup tersebut menjadi fenomena beberapa tahun terakhir. Lucunya, banyak toko ritel yang tutup, kabarnya karena gerai online. Benarkah demikian? (bersambung).

Baca juga:
'Cashless Society' Membanjiri Transaksi (bag.1)
Gerai Online 'Merangsang' Belanja (bag.2)
Masih Terbiasa Cara 'Zaman Old' (bag.3)
Menargetkan Mereka 'Melek' Pola Kekinian (bag.4)
Melihat Kompetensi Indonesia di Era Digital (bag.5)

Penulis Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Uang elektronikgenerasi milenialtransaksi non tunaibelanja onlinedisrupsi