logo rilis
Cara Mudah dan Murah Mengolah Lahan Gambut tanpa Dibakar
Kontributor
Fatah H Sidik
11 Mei 2018, 09:35 WIB
Cara Mudah dan Murah Mengolah Lahan Gambut tanpa Dibakar
Padi tumbuh subur di lahan gambut. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Palangka Raya— Masyarakat umumnya membakar lahan gambut sebelum memanfaatkannya. Pembakaran dilakukan untuk menyingkirkan kayu besar dan menjaga keasaman tanah dengan biaya murah dan mudah.

Dengan alasan ekologis, pemerintah telah melarang penerapan cara konvensional tersebut. Alhasil, terjadi perbedaan pendekatan antara pemerintah dan masyarakat dalam membuka lahan baru, khususnya di areal gambut.

Kini, masalah tersebut nampaknya bisa terurai. Sebab, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah memiliki inovasi pengolahan lahan gambut dengan murah dan mudah.

Inovasi tersebut diuraikan peneliti sumber daya lahan BPTP Kalteng, Dr. Anang Firmansyah, saat "Bimbingan Teknis Pertanian Lahan tanpa Bakar (Bimtek PLTB)" di Palangka Raya, Kalteng, beberapa waktu lalu. Bimtek digelar Direktorat Perlindungan Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan.

Bimtek bertujuan mengedukasi serta meningkatkan pencegahan kebakaran lahan dan kebun. Pesertanya, petugas di sejumlah provinsi yang mempunyai lahan gambut, seperti Kalteng, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Riau.

Kata Anang, gambut merupakan ekosistem unik dengan keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi dan khas. Namun, sangat rentan karena mudah terganggu, rusak, dan sulit dipulihkan kembali.

Hal itu terjadi, lantaran salah satu sifatnya kering tak balik (irreversible drying) yang berhubungan dengan kemampuannya dalam menyerap, menyimpan, dan melepaskan air. Ketika keseimbangan ekologisnya terganggu karena mengalami reklamasi, kemampuannya dalam menyimpan air tidak maksimal atau tersisa 50 persen. Sehingga, mudah terbakar.

Mengingat gambut berasal dari tumpukan bahan organik yang jenuh air, maka proses dekomposisi tak berjalan sempurna. Akibatnya, miskin mineral dan sangat masam. Untuk memperbaikinya, dengan menambahkan pupuk kompos.

Karenanya, terang Anang, perlu berhati-hati dalam mengolah gambut. PLTB dengan menggunakan mekanisasi seperti eskavator, biayanya mencapai Rp15 juta-Rp20 juta per hektare.

Sedangkan cara manual, biayanya Rp1,8 juta per hektare. Tetapi, perlu waktu dan proses. Cara manual dilakukan dengan mencabut pohon, kemudian meratakan tanahnya, dan dibajak setelah rata.

Teknologi tersebut, menurut Anang, lebih terjangkau oleh petani. Teknologi PLTB pun meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat menerapkan cara-cara ramah lingkungan dalam membuka dan mengolah lahan pertanian.

Dia menambahkan, perlu bahan organik dan kompos untuk meningkatkan kesuburan lahan gambut. Pupuk kompos juga bisa meningkatkan produksi tanaman.

Peserta bimtek pun diajak praktik lapangan di Desa Tumbang Nusa, KecamatanJabiren Raya, Pulang Pisau, Kalteng. Pada kesempatan ini, peserta diajarkan cara membuat kompos secara sederhana. Misalnya, memakai organik muda, seperti pucuk, dedaunan muda, dan tumbuhan air untuk meningkatkan unsur nitrogen.

Ada pula penggunaan bahan berunsur karbon. Di antaranya, dedaunan atau dahan tua, serbuk gergaji, sekam padi, dan lain-lain. Lalu, diperkaya dengan pupuk kandang dan urine sapi.

Bisa juga ditambah pupuk urea, pupuk SP-36, dan KCl jika ada serta mikroba dari produk botolan (effective microorganism). Selanjutnua, disusun berlapis-lapis dengan tujuan panasnya mencapai 70 derajat celcius. Idealnya setinggi 150 sentimeter dan lebar 250 sentimeter.

Selanjutnya ditutup dengan terpal serta menjaga kelembaban agar tak terlalu kering atau terlalu basah. Tiap satu bulan, diaduk dan dicek kelembabannya. Ditambah air, bila terlalu kering.

Kompos yang matang umumnya memerlukan waktu tiga bulan pembuatan. Cirinya, berwarna hitam, remah, tak berbau, dan tidak terlihat lagi bentuk bahan asalnya.

Di sisi lain, untuk menguji sejauh mana pemanfaatan teknologi PLTB, sedang dilakukan penelitian di Desa Sabuai, Kecamatan Kumai dan Desa Kumpai Batu Atas, Kecamatan Arut Selatan, Kotawaringin Barat, Kalteng, pada demplot seluas lima hektare. Riset dilakukan Balai Penelitian (Balit) Tanah Balitbangtan dan bekerja sama dengan pemerintah setempat.

Dalam melakukan penelitian itu, peneliti Balit Tanah menggunakan sistem pelapukan material dari tanaman dan kayu. Sistem kerjanya melalui dekomposer.

Sumber: Dedy Irwandi/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)