logo rilis
Cak Rusdi, Selamat Jalan...
Kontributor
RILIS.ID
03 Maret 2018, 14:42 WIB
Cak Rusdi, Selamat Jalan...
Linda Christanty. FOTO: facebook

Oleh Linda Christanty
Pegiat Sastra dan Aktivis Sosial

SAYA tidak ingat kapan pertama kali bertemu Rusdi Mathari alias Cak Rusdi lalu berteman. Kemungkinan kami dikenalkan oleh Nezar Patria, rekan sesama wartawan dan sahabat Cak Rusdi. Setelah itu kami bercakap-cakap tentang berbagai hal. Kadang-kadang kami sependapat. Kadang-kadang tidak. Begitulah teman. Seharusnya memang begitu dalam berteman. 

Lagipula hubungan kita dengan teman tidak sama dengan hubungan presiden Korut dengan rakyatnya, atau tidak seperti hubungan pemerintah Korut dengan pemerintah Jepang: orang-orang Jepang selalu khawatir Korut akan meluncurkan rudal nuklir ke Tokyo sampai sekarang.

Setelah lama tidak mengetahui kabar masing-masing, saya bertemu Cak Rusdi lagi pada tahun 2014. Dia kurus, seperti biasa. Rambutnya gondrong, diikat ke belakang. Kami berdua mengantar teman kami, para wartawan televisi dari Thailand, untuk meliput Pemilu. Tiba-tiba Cak Rusdi bertanya kepada saya, “Lin, terakhir kali itu kita berdebat tentang apa ya?” Saya tidak ingat lagi. Saya juga heran, mengapa Cak Rusdi tidak menanyakan kegiatan atau keadaan saya, tapi malah menanyakan topik perdebatan terakhir kami.

Dalam perjalanan bermobil menuju stadion Gelora Bung Karno, lokasi kampanye terakhir Joko Widodo, Cak Rusdi bercerita tentang penelitiannya di Sampang, Jawa Timur. Dia mewawancarai banyak saksi dari berbagai pihak, melakukan riset dan membuat analisis. Sebuah hasil penelitian mendalam pun selesai dibuat, lalu diserahkannya kepada orang yang meminta dia mengerjakan penelitian itu.

“Tapi kelihatannya orang itu tidak suka dengan kesimpulan penelitianku, Lin. Harapan dia kesimpulannya itu lain mungkin,” tutur Cak Rusdi. 

Kesimpulan penelitian Cak Rusdi singkatnya begini: penyebab kerusuhan Sampang tidak seperti yang dipropagandakan media dalam dan luar negeri waktu itu. Hubungan antaraliran atau antarsekte dalam Islam di Sampang tidak seperti di Lebanon atau di Irak atau di Suriah, yang meruncing-membara akibat benturan atau dibenturkan oleh berbagai alasan dan kepentingan kekuatan-kekuatan besar di Timur Tengah.

Menjelang Pemilu, Cak Rusdi tetap kritis dan berjarak terhadap dua calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dia justru menyorot kepentingan kaum modal yang menjadi pendukung masing-masing calon. Dia tahu saya mendukung Joko Widodo, tapi saya tidak pernah tahu Cak Rusdi memilih siapa, atau golput. 

Di stadion itu, kami juga bertemu beberapa teman lama. Wajah mereka tampak cemas dan seketika berubah menjadi terharu seolah menemukan oase di padang pasir Mali begitu melihat kemunculan kami, yang dianggap sebagai pendukung calon yang sama. Cak Rusdi menyapa mereka, hai, hai, apakabar? Lalu dia bergegas mencari orang-orang untuk diwawancarai. Di kejauhan, seorang laki-laki mengayuh sepeda dengan membonceng ayam-ayam di keranjang sepedanya. 

Sebuah ondel-ondel besar hitam diarak, mengingatkan saya pada sebuah ondel-ondel bertuliskan “Dorna Peking” dalam demonstrasi di Jakarta menjelang kejatuhan Presiden Soekarno. Dorna artinya Pandhita Durna, seorang penasihat yang digambarkan jahat dalam kisah klasik Mahabharata. Peking adalah ibukota Tiongkok yang sekarang lebih populer dieja Beijing. 

Kilas balik dalam ingatan saya ini bersumber pada foto dalam buku Supersemar yang saya baca waktu di sekolah dasar. Aaah, di mana Supersemar itu berada sekarang? Orang-orang masih mempertanyakan keasliannya.

Peran para sukarelawan besar sekali dalam kampanye Joko Widodo. Seorang pendukung di stadion berbisik bahwa partai terpecah suaranya. Dana partai dalam jumlah besar tidak diturunkan sejak awal akibat perpecahan itu, katanya. Saya menjawab, “Memangnya ada dana?” Dia berkata, “Ya ada dong, Mbak. Pengusaha-pengusaha itu pasti kasih uang. Mereka kasih uang ke sana dan kasih uang ke sini.”

Hari itu roti dan air mineral dibagikan gratis. Jumlahnya banyak sekali. “Semua ini sumbangan rakyat, bukan dari partai.” kata seorang ibu yang membagikannya di pintu keluar. Untuk berbuka puasa. Roti itu bukan roti papan atas. Tapi Cak Rusdi mengunyah roti dengan santai. Merek air mineralnya tidak jelas. Mungkin diproduksi terbatas. Cak Rusdi juga meminumnya. Duh, Cak Rusdi ini cuek sekali. Sementara itu saya selalu mencurigai apa-apa yang tidak jelas dan tidak dikenal.

Tiap kali saya meresahkan sesuatu yang rumit dalam politik kita atau politik dunia dan ingin menyeimbangkan pikiran-pikiran ataupun pengetahuan-pengetahuan saya di saat tidak ada orang yang bisa diajak mendiskusikannya, saya pasti membaca tulisan-tulisan Cak Rusdi di weblog-nya atau di mojok.co atau di media sosial. Dia seorang penulis hebat. 

Spektrum pengetahuannya luas, kritis, mempunyai daya analitis yang tinggi, mahir mengolah kata-kata, dan berani mengatakan apa yang orang sering tidak berani mengatakannya atau bahkan, gagal memikirkannya untuk mengerti bahwa di situlah masalah atau keadaan bermula. Kadang-kadang tulisannya dapat menjadi berkas cahaya untuk menunjukkan sebuah jalan. Setiap manusia tidak sempurna. Kesempurnaan manusia itu dapat membuat kita ngeri, karena tidak siap menghadapinya, seperti pesan dalam film Lucy, sebuah fiksi. Andaikata kesempurnaan ada dan nyata, maka pemikiran-pemikiran Cak Rusdi adalah sisi yang sempurna pada dirinya.

Tahun lalu saya mendengar kabar Cak Rusdi sakit keras. Dia tidak mau berobat ke rumah sakit, tapi mengunjungi seseorang untuk memperoleh doa-doa. Keadaannya makin parah. Dia bersikeras tidak mau diobati secara medis. Nezar, teman kami, mengupayakan dia dirawat di rumah sakit militer Gatot Subroto tanpa biaya.

Malam itu saya mengunjungi Cak Rusdi di rumah sakit. Beberapa orang bergantian membesuknya. Seorang anak muda yang entah dari perserikatan apa menjaga dia, duduk di sofa. Saya khawatir Cak Rusdi ditinggal sendiri. “Mana keluarganya?” tanya saya. 

Anak muda itu menjawab bahwa dia dan teman-temannya akan bergantian menjaga Cak Rusdi, “Kami sudah mengatur jadwal piket.” Suara Cak Rusdi terdengar segar, bersemangat, menyapa teman-teman yang datang. Tangan-tangannya kurus sekali. Lehernya membengkak. Lima ruas tulang belakangnya telah retak digerogoti kanker, seperti korupsi atau narkoba menggerogoti ketahanan dan pertahanan sebuah negeri.

Dia bercerita tentang buku terbarunya, yang ditulis bersama Nezar, biografi bankir kelas dunia asal Aceh yang berperan dalam pemerintahan Indonesia dan keadaan di Aceh. Adnan Ganto, nama sang bankir, bertemu Hasan Tiro dua kali. 

Pertama, mereka bertemu tak sengaja dalam kereta penumpang di New York pada awal 1970-an. Adnan memberi alamatnya untuk dikunjungi, tapi kemudian dia pindah begitu memperoleh informasi tentang sepak terjang pejuang dan proklamator Aceh Merdeka ini. Kedua, mereka bertemu lagi saat Hasan Tiro terbaring sakit di Aceh pada 2010. 

Kelak Adnan turut membantu mengurus proses keimigrasian hingga pemakaman tokoh politik ini di Aceh. Ada kalimat dalam biografi tersebut yang membuat saya terkesan, yang diucapkan Hasan Tiro kepada Adnan Ganto saat mereka bertemu lagi, “Jangan pernah diingat lagi. Itu sudah masa lalu.”

Pagi ini (2/3/2018), saya mendengar Cak Rusdi berpulang. Saya tidak akan melupakan dia dan mengirim Al Fatihah dari jauh. Semoga almarhum bahagia di sisi-Nya. Selamat jalan, Cak. Terima kasih kita sudah berteman cukup lama.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)