logo rilis

Buni Yani Cerita Rocker Yahudi, Filipina dan Disertasi di Leiden yang Mangkrak
Kontributor

12 Maret 2018, 15:16 WIB
Buni Yani Cerita Rocker Yahudi, Filipina dan Disertasi di Leiden yang Mangkrak
Buni Yani saat berkunjung ke DPR. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

SIAPA sangka, orang yang saat ini menyandang status terpidana, memiliki cerita soal politik Filipina. Ia adalah Buni Yani, yang pada 14 November 2017 lalu, divonis bersalah karena terbukti melanggar Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Kasus ini sempat jadi perbincangan publik, lantaran Buni Yani dianggap orang pertama yang mengunggah video penistaan agama Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Lantaran kasus itu, desertasi doktoral Buni Yani di Universitas Leiden, Belanda, jadi terbengkalai. 

Ia mengisahkan, dari penelitian doktoralnya, pada dekade 1960 hingga 1970-an, musik telah memberikan andil besar dalam melahirkan nasionalisme dan patriotisme di Filipina. Sebagai bangsa yang baru merdeka dari Amerika Serikat kala itu, lahirlah seorang rocker keturunan Yahudi-Rusia, namanya Juan Dela Cruz. 

Buni Yani menceritakan, bagaimana usaha Juan melakukan Filipinaisasi melalui musik. Juan adalah pemusik sekaligus pencipta lagu yang menggunakan Bahasa Tagalog sebagai nada pemersatu bangsa tersebut. Lagu-lagunya bahkan didendangkan para demonstran di jalan-jalan. Musik Juan menggerakkan generasi muda kala itu untuk berbuat bagi bangsanya. 

Wartawan rilis.id Taufiq Saifuddin, mendapatkan kesempatan mendiskusikan ini dengan Buni Yani di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, beberapa waktu lampau. Bagaimana cerita selanjutnya, simak wawancara selengkapnya berikut ini
 
Desertasi Anda kan menyorot soal musik dalam kacamata antro-sosiologi di wilayah Filipina dan Indonesia, apa sebenarnya yang Anda temukan?

Yang saya ingin kaji adalah bagaimana data-data musik post-colonial (pasca penjajahan), di kedua wilayah itu, Jakarta dan Manila. Kalau kita (Indonesia) dulu dijajah oleh Belanda, sedang Filipina dijajah Amerika Serikat dan Spanyol. Konsentrasi saya adalah, menyoroti bagaimana masyarakat di Jakarta dan Manila, atau Menteng dan Makati lebih spesifik lagi di tahun 1960 dan 1970-an. 

Waktu itu, musik rock and roll sedang melebarkan pengaruhnya. Jenis musik ini datang dari Amerika. Nah, saya ingin tahu, bagaimana reaksi anak-anak muda itu menerima musik ini dan kaitannya dengan sosial-politik. 

Berarti yang Anda teliti adalah musik populer, bukan musik etnik? 

Iya populer, karena waktu itu memang rock and roll menjadi tren bermusik. Saya kemudian mendapat kesempatan mewawancarai Juan Dela Cruz di Manila. Tokoh ini musisi paling galak di Filipina, ia adalah legenda dan musiknya sangat luar biasa. Saya menemui Juan di rumahnya, kira-kira 60 kilometer dari Kota Manila. 

Lucunya, sebelum saya memulai wawancara, justru saya yang diinterogasi duluan oleh Juan. Ia berkata, “Orang Indonesia kok tertarik sama musik Filipina”. Perlu diketahui, Juan adalah keturunan Yahudi, nenek moyangnya Yahudi dari Rusia. Juan terheran, mengapa ada seorang Muslim dari Indonesia yang kemudian ingin mewawancarai rocker keturunan Yahudi tapi berkewarganegaraan Filipina. 

Saya jelaskan ke Juan bahwa saya ini peneliti dari Leiden. Saya bilang, orang Islam, nabinya sama dengan orang Kristen dan Yahudi, kita sama-sama percaya pada Nabi Ibrahim. Ibrahim adalah bapak tiga agama samawi ini. Dari Ibrahim turun agama Yahudi, Kristen lewat Nabi Isa dan dan Islam lewat Nabi Muhammad. Langsung dia senang. Hahahaha....

Wawancaranya seperti apa waktu itu?
 
Saya berpendapat, pada dekade 1960-1970-an musisi besar yang dilahirkan Filipina kala itu adalah Juah Dela Cruz. Jadi wawancara mengenai bagaimana dia menganggap musik Amerika, seperti apa reaksinya pada waktu itu. Juan adalah tokoh sentral di Filipina, khususnya dalam hal Filipinaisasi musik, karena sebelumnya, semua aspek musik sangat terpengaruh dengan Amerika, bahkan sampai sekarang. Sehingga, hampir semua jenis lagu kala itu berbahasa Inggris. Juan lalu menciptakan musik yang liriknya berbahasa Tagalog, bahasa ibu Filipina. 

Filipina sendiri dijajah oleh Amerika dan Spanyol sejak 1898 dan baru pada tahun 1946 mereka merdeka. Sehingga, ada kesan bahwa orang Filipina itu sangat bangga menjadi atau mendekat-dekatkan diri dengan segala hal yang berbau Amerika. Makanya, apa yang dimakan oleh orang Amerika dimakan juga oleh mereka, cara berpakaian orang Amerika juga dipakai. Termasuk musiknya juga diserap, karena mereka menganggap orang Amerika itu lebih moderen daripada diri mereka sendiri. 

Artinya, suara politik Juan Dela Cruz ini adalah dengan memasukkan komponen etnik dan bahasa Filipina ke dalam musiknya? 

Betul, saya menyebutnya proses Filipinaisasi melalui musik. Karena, Juan mencipta lirik dalam Bahasa Tagalog. Lalu, tema-tema musiknya tidak lagi tentang Amerika, tetapi hampir semuanya tentang Filipina. Inilah yang disebut revolusi beneran. Makanya, di Filipina, band Juan Dela Cruz dianggap sangat nasionalistik dan patriotik. 

Sederhananya, dapat dikatakan bahwa dalam musik Juan itu ada diskursus tentang kenapa mereka harus menjadi orang Filipina dan yang paling penting mengapa generasinya harus meniru-niru orang Amerika.

Bagaimana diskursus seperti itu melantun dalam musik Juan Dela Cruz?

Saya memang mempelajari musik Juan Dela Cruz. Hal ini juga saya tanyakan langsung kepadanya.  Dia pun menceritakan tentang teori-teori apa saja yang dimasukkan dalam musiknya. “Kalau saya inginnya” kata Juan, “saya menciptakan lagu itu harus sesuai dengan identitas orang Filipina”. Bahkan, sampai daya ungkap dan artikulasinya pun ia ceritakan dalam bermusik, beat musiknya dipikirkan betul, sampai pada suku kata yang digunakan dalam lagu juga tidak asal-asalan. Itu yang dijelaskan ke saya. 

Anda menyinggung soal teori-teori sosial-politik yang digunakan Juan Dela Cruz dalam bermusik. Siapa tokoh intelektual yang memengaruhinya? 

Seingat saya, diskursus ataupun diskusi tentang bagaimana caranya Filipinaisasi itu sudah lahir pada tahun 1950-an. Renato Constantino adalah nama intelektualnya. Renato-lah tokoh yang memperdebatkan, mengapa Amerika itu seolah yang dituankan. Diskusi soal ini telah aktif sejak era itu, hanya memang dalam musik identitas baru berkembang di era 1970-an, melalui sosok Juan. 

Soal politik dan musik di Filipina, apabila diperbandingkan dengan Indonesia, seperti apa keduanya saling berpengaruh? 

Pertama, kalau di Filipina, biasanya orang yang pandai bermusik memiliki status sosial yang tinggi. Artinya, mereka itu mendapatkan privilege dan bisa naik status sosialnya. Jika berpolitik, kariernya cepat naik. Tempat mereka terhormat. Indonesia juga sebenarnya ada tokoh demikian, tapi tidak sebesar di Filipina kharismanya. Dengan kata lain, hubungan musik dan politik dalam segi mobilitas sosial, seorang musisi dapat dengan mudah merambah ke dunia politik. Musisi lebih mudah memobilisasi massa kalau kita menggunakan teorinya Pierre Bourdieu, sosiolog Perancis. 

Kedua, musik memang memiliki efek politik. Contohnya seperti Juan yang melahirkan nasionalisme dan patriotianisme melalui musiknya. Lagu-lagunya dianggap paling berpengaruh untuk melawan Presiden Ferdinand Marcos yang jatuh dari jabatannya pada tahun 1986 melalui revolusi di Filipina. 

Lagu-lagu yang diciptakan oleh banyak musisi di Filipina di tahun 1960-1970-an memang untuk melawan kekuasaan, karena isinya adalah kritik sosial. Itulah yang saya pelajari. Makanya sampelnya Juan Dela Cruz. 

Dari sekian lagu Juan Dela Cruz, mana yang paling monumental dan memiliki daya gerak massa yang sangat besar? 

Yang menarik memang, Juan menciptakan musik untuk melawan kekuasaan. Jadi dia tidak pakai senjata, melainkan menggunakan lagu. Dan itu benar, setiap ada demonstrasi lagu Juan sering dinyanyikan. Salah satu yang paling menumental adalah lagu “Himig Natin” dalam bahasa Tagalog. Ini kayak semacam lagu nasionalisme yang artinya lagu kita. 

Saya pernah melihat dan mendengarkan lagu itu dinyanyikan di dalam penjara. Saat itu orang menyanyikan “Himig Natin” dengan sangat khusuk sekali. Itu ibarat menghadirkan aura politik yang sangat kental dan wah gitu. 

Balik ke Indonesia, adakah musisi sekelas Juan Dela Cruz? Semacam Iwan Fals mungkin?

Sebetulnya sih bisa saja. Cuma ada latar sejarahnya berbeda, artinya tidak simetris. Kalau soal kritik sosial, Iwan Fals bisa mendekati, tetapi tidak dalam pengertian memobilisasi orang. Iwan Fals adalah tokoh yang menciptakan genre musik nasionalistik. 

Artinya, yang ingin Anda katakan adalah, kalu diperbandingkan keduanya, Juan itu berpolitik melalui musik, sedangkan Iwan tidak? 

Sebetulnya berpolitik juga, tapi dengan cara yang berbeda. Kalau Juan kita sebut sebagai politik kebudayaan. Karena, musiknya mengubah cara pandang orang tentang identitas masyarakat. Dulu orang Filipina merasa identitasnya keren kalau dekat dan mirip dengan orang Amerika. Tiba-tiba, Juan Dela Cruz datang dengan musiknya dan mengatakan, “lo juga keren kalau tetap berbahasa Tagalog”. Ini kan berpolitik juga tapi politik kebudayaan. 

Nah kalau Iwan Fals, sebetulnya berkonsentrasi pada kritik sosial. Cuma, tidak dalam pengertian bahwa Iwan mengubah mindset orang untuk nasionalisme. Karena memang latar sejarah kolonial Indonesia dan Filipina memang berbeda.  

Maksudnya, perbedaan itu ada pada cara masyarakatnya mendefenisikan penjajahan. Kita di Indonesia, setelah Belanda pergi, kita langsung benci setengah mati sama Belanda. Sementara di Filipina itu, orang Amerika sebagai penjajah sudah pergi, tapi orang Filipina sendiri masih mencintai Amerika, baik kebudayaan dan musiknya. Jadi konteksnya memang berbeda. 

Bukan berarti Iwan Fals tidak lebih bagus dari Juan Dela Cruz loh. Ada persamaannya, ada juga perbedaannya. Hahahah.... 

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)