Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID.

Bukan Keledai, Waktu Tak Bisa Disimpan

Selasa, 14/11/2017 | 13:21

KITA tak bisa menyimpan waktu. Ia terus bergerak, tak menunggu. Sesuatu yang kemarin tak lagi dapat diulang. Ia menjadi kenangan. Nostalgia. Kisah yang ingin dikenang, atau dilupakan.

Sesuatu yang lampau, menjadi sejarah, ia tersimpan dalam ingatan dan tafsir yang terbatas. Kemampuan merawat ingatan ini bergantung pada kapasitas memori yang tersedia. Juga, pada apa yang dianggap penting dan tidak untuk disimpan.

Harapan tumbuh dari pohon ingatan ini. Ia bisa berupa kritik atas kegagalan yang pernah ada. Atau, kerinduan untuk mengulangi kisah yang gemilang di masa lampau.

Beragam sistem nilai, filsafat, sains, pengetahuan, ideologi, dan pandangan dunia (world view) terlahir dari proses dialektik atas sejarah kemanusiaan dan peradabannya. Proses yang hingga kini terus berlangsung.

Romantika pohon ingatan ini bergerak dalam dialektika sepanjang jalan peradaban kita. Sedih dan senang. Berhasil ataupun gagal. Dan, ia tak selalu matematis. Tidak melulu tersandar pada mesin algoritma yang mendominasi percakapan dan selera kita belakangan ini.

Harapan akan hidup yang lebih baik ke depan adalah impian dari pelbagai peristiwa lampau, yang diingat atau tersimpan dalam teks, kitab, buku, manuskrip, relief, juga oleh alat bantu memori lain, guna menyimpan dan merawat ingatan.

Hasrat untuk menjadi lebih baik ini adalah paradoks peradaban. Integrasi sekaligus disintegrasi. Kebebasan diikuti dominasi. Belas kasih juga tangan besi. Memuja perdamaian sembari menganjurkan perang. Kemerdekaan dan penaklukan dalam keping yang sama. Kita sekaligus mereka.

Tiap-tiap kita, hari ke hari, menjadi saksi atas pelbagai paradoks ini. Klaim atas klaim silih berganti dalam transaksi juga argumentasi.

Miskalkulasi, salah hitung, kadang tak terhindar. Harapan kerap membuai, ia disaputi glorifikasi. Fakta terlampaui oleh fiksi yang dijanjikan dalam babad atau mitologi. Justifikasi telah mendahului kebenaran. Pengetahuan, sains, yang seniscayanya merupakan alat bantu tak lagi sesuai dengan peruntukannya. Ia diubah sebagai alat legitimasi atas pengultusan pembual harapan.

Kekecewaan adalah harapan yang tak sampai. Bagai pohon yang tak berbuah. Kekecewaan selalu datang kemudian. Mungkin sejarah bisa saja "berulang", namun waktu tak bisa kita simpan. Setidaknya, sekarang, belum ada zat pengawet waktu.

Hanya keledai yang terperosok ke lubang yang sama. Lubang kekecewaan itu akan tetap menganga. Ia akan selalu mengadang. Memastikan peta jalan yang hendak dilalui adalah ikhtiar rasional agar tak menjadi keledai. Sebuah ikhtiar yang saksama. Menyusun rencana dengan informasi yang jernih. Bergerak dengan langkah yang dipandu oleh jejak sejarah dan kejujuran pikiran. Bukan lantas tenggelam dalam harapan yang semu: harapan yang diteriakkan dalam janji dan suara parau para demagog, kaum pemuja tipu daya, dan para pengabdi setia yang memungut riba.

Harapan yang diumbar oleh kaum demagog adalah jebakan terencana. Perangkap ini adalah lubang kelam peradaban yang terus-menerus dirawat oleh para pemujanya. Sebuah rencana yang tertata untuk tujuan yang abadi: menumpuk riba guna mengawetkan dominasi yang manipulatif. Sebuah rencana yang rapi untuk menghilangkan dimensi kemanusiaan dari tiap-tiap kita.

Akal sehat adalah navigasi utama kita dalam menjejaki perjalanan ke depan. Jalan yang masih panjang. Tak selalu mulus dan lurus. Ada banyak lubang kekecewaan, juga kelokan tipu daya. Tentu kita berharap ini bukan jalan buntu. Dan, tak terus terperosok berulang kali. Semoga.