logo rilis

Budidaya Buah Naga, Usaha Menjanjikan di Lahan Gambut
Kontributor
Elvi R
10 Mei 2018, 11:08 WIB
Budidaya Buah Naga, Usaha Menjanjikan di Lahan Gambut
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Palangka Raya— Buah naga atau Dragon Fruit (Hylocereus undatus) merupakan salah satu dari sekian banyak jenis tanaman kaktus yang memiliki banyak manfaat sebagai sumber antioksidan dan menangkal serangan radikal bebas penyebab kangker. Saat ini buah naga banyak dibudidayakan oleh petani di kota Palangkaraya, khususnya di lahan-lahan suboptimal seperti lahan gambut.

Salah satu petani budaidaya buah naga yakni Sumardi yang memiliki kebun buah naga seluas 7 hektar. Menurutnya kunci dalam budidaya buah naga di lahan gambut adalah lahan jangan sampai kebanjiran atau terendam air, sehingga diperlukan drainase untuk mengalirkan dan mengantisipasi kelebihan air. 

Untuk cara budidayanya diperlukan tiang setinggi 1,5 meter yang terbuat dari kayu atau beton sebagai tempat untuk merambatnya tanaman, setiap tiang terdiri dari 3 bibit tanaman. Pemupukan menjadi aspek terpenting agar tanaman tumbuh subur dan prodktif, diperlukan pupuk organik dari kotoran ternak ayam atau kambing. 

"Dibutuhkan 15 kilogram pupuk kandang, 5 kilogram dolomit sebagai pupuk dasar, pemberian pupuk susulan setiap 3 bulan sekali menggunakan pupuk NPK (15:15:15 per kilogram) dan pupuk SP-36 dengan takaran masing-masing 2 ons per lubang tanam," jelasnya.

Untuk pemeliharaan dapat dilakukan dengan pemangkasan. Pengalaman yang dilakukan oleh Sumardi, dalam 1 hektar lahan dapat ditanami sebanyak 1.000 bibit buah naga dan setiap 3 bulan mampu menghasilkan 150 butir. Pemanenan dilakukan setiap 2 bulan sekali dan setiap musim panen Oktober dan April. Buah naga yang ditanam di lahan gambut umumnya berbobot anatar 3 samapi 4 ons dan dalam satu kilogram 3-4 buah. Harga jual di kebun berkisar antara Rp7 -10 ribu per kilogram.

"Sedangkan harga pasaran buah naga di kota Palangkaraya berkisar antara Rp20-25 ribu perkilogram," ungkap Sumardi.

Sementara itu peneliti bidang Hortikultura BPTP Kalteng, Dr. Anang Firmansyah mengatakan, buah naga dikenal juga dengan bunganya yang indah berukuran besar serta wangi. Bunga tersebut mekar dimalam hari, sehingga keindahannya dijuluki juga sebagai " Queen of the Night" si ratunya bunga malam. Bunga buah naga di lokasi penelitian lahan gambut Pak Sumardi selalu dilakukan perkawinan (penyerbukan) buatan. Pengalaman petani menunjukkan jika buah naga dibantu dengan perkawinan buatan, maka ukuran buah naganya lebih besar daripada yang alami.

"Bunga buah naga mulai mekar setelah magrib atau pukul 18.00 WIB dan mulai mekar sempurna pukul 22.00 WIB.  Perkawinan alami belum bisa diharapkan, karena agen yang membantu perkawinan, yaitu kelelawar dan burung alap alap tidak banyak," kata Anang.

Perkawinan bantuan dilakukan dengan meraup dengan tangan pada benang sari bunga mekar sempurna sehingga butiran sari (jantan) banyak menempel di tangan, kemudian dihentak hentakkan di atas kepala putik (betina) dan akan terlihat butiran kepala sari yang menempel di atas kepala putik. Perkawinan dinyatakan berhasil, jika mahkota bunga akan menutup keesokan harinya.

"Jika mahkota masih mekar di pagi hari bahkan menjelang siang itu tanda perkawinan si " naga" dinyatakan gagal," ujarnya.

Sejak perkawinan buatan dilakukan, maka akan terbentuk buah naga dan buah akan siap petik sekitar 40 hari kemudian.

Sumber: Dedy Irwandi/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)