logo rilis

BSSN: Indonesia Sisihkan Anggaran untuk Keamanan Siber
Kontributor
Nailin In Saroh
02 Maret 2018, 20:35 WIB
BSSN: Indonesia Sisihkan Anggaran untuk Keamanan Siber
Penandatangan MoU antara BSSN, BPS dengan Kementerian Keuangan tentang Perlindungan Informasi dan Transaksi Elektronik di Kantor Kemenkeu. FOTO: RILIS.ID/Nailin In Saroh

RILIS.ID, Jakarta— Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menjalin kerja sama dengan Kementerian Keuangan dalam upaya pengamanan data digital. 

Pasalnya, saat ini, keamanan data digital milik kementerian dan lembaga rawan terhadap peretasan.

Kepala BSSN, Mayjen TNI Djoko Setiadi menyebutkan, Indonesia menjadi negara paling rawan kejahatan siber. 

"Sebanyak 205.502.159 serangan siber terjadi dalam periode Januari-November 2017," saat Penandatangan MoU antara BSSN, BPS dengan Kementerian Keuangan tentang Perlindungan Informasi dan Transaksi Elektronik di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (2/3/2018).

Djoko mencontohkan, salah satunya serangan pada Mei lalu, Indonesia disebut sebagai sumber serangan malware wannacry akibat lemahnya sistem keamanan.

Berdasarkan penelitian, kata Djoko, negara-negara ASEAN sangat rentan terhadap serangan siber dari malware, karena tidak mengalokasikan dana yang cukup bagi keamanan sibernya, termasuk Indonesia.

"Jika dibandingkan dengan negara maju seperti, AS atau Singapura, Indonesia hanya menyisihkan sekitar 0,03 persen dari Gross Domestic Product atau GDP tahun 2017," ujar Djoko. 

Sementara, sambungnya, pasar matang seperti AS, Inggris, Jerman dan Singapura menyisihkan 0,16 persen dari GDP untuk keamanan siber mereka. 

Konsekuensi perbedaan terlihat dari Global Security Indeks, sebagai contoh tahun 2017 Indonesia berada pada posisi ke-69, sementara Singapura berada di urutan pertama sebagai negara dengan keamanan siber terbaik dari 161 negara yang disurvei. 

Selain itu, perusahaan-perusahan mengalami resiko mencapai USD 750 miliar atau setara Rp10ribu triliun akibat dampak serangan siber. 

Sedangkan menurut survei Central for Strategic dan CSIS, kerugian dari kejahatan siber secara global mencapai USD 600 miliar atau setara Rp8,160 triliun pada 2017. 

"Yang didorong dengan meningkatnya kejahatan hacker (peretas) dan bertambahnya kejahatan dunia maya," jelas Djoko.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID