logo rilis
BPTP Sumsel Tetap Aktif dalam Pengelolaan SDG Padi Khusus 
Kontributor
Elvi R
29 Juli 2020, 17:14 WIB
BPTP Sumsel Tetap Aktif dalam Pengelolaan SDG Padi Khusus 
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Sumber Daya Genetik (SDG) yang berada di setiap sudut wilayah negara Indonesia adalah kekayaan alam yang perlu dijaga dan dilestarikan. Keberagaman ekosistem yang ada di Indonesia tentu mempengaruhi perkembangan SDG yang khas di masing-masing penjuru negeri.  

Kekayaan SDG tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam berbagai kepentingan masyarakat, khususnya terkait pemenuhan bahan pangan yang nantinya akan berpengaruh pada kondisi ketahanan pangan di setiap wilayah di Indonesia. Tidak hanya itu, SDG juga merupakan warisan sekaligus kesempatan untuk mendukung berbagai program pemuliaan tanaman.

Beberapa isu seperti perubahan iklim, pemanasan global, dan bencana alam dapat memacu erosi genetik bahkan kepunahan terhadap SDG tanaman yang ada. SDG pertanian (agrobiodiversity) merupakan salah satu plasma nutfah yang perlu tetap dipelihara dari kepunahan dan erosi genetik.

Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang merupakan salah satu institusi di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) adalah satu lembaga yang turut serta memperhatikan, menjaga, dan melestarikan SDG. Pada 2020 ini, BPTP Balitbangtan Sumsel tetap aktif dalam kegiatan pengelolaan SDG khususnya di wilayah Sumsel.

Pada 11-13 Juli 2020, BPTP Balitbangtan Sumsel melakukan persiapan dan pelaksanaan karakterisasi padi lokal yang dilaksanakan di agroekosistem dataran tinggi. Kegiatan pengelolaan SDG tersebut tepatnya berlokasi di Desa Aremantai dan Pajar Bulan, Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU) dan Semende Darat Tengah (SDT), Kabupaten Muara Enim. Karakterisasi SDG tersebut dilakukan dengan menggandeng Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, yakni Dinas Tanaman Pangan Hortiultura dan Peternakan Kabupaten Muara Enim.

Padi lokal yang dikarakterisasi adalah Jambat Tehas, Selebur Rimbe dan Padi Putih. Varietas lokal ini adaptif pada ketinggian sekitar 950-1.300 mdpl. Keunggulan dari varietas Jambat Tehas adalah produktivitasnya mencapai 5,0 ton per hektare, tahan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) dan beras tahan simpan.

Keunggulan varietas Padi Putih adalah produktivitas mencapai 3 t/ha, beras tahan simpan dan tahan rebah. Sedangkan Selebur Rimbe produktivitasnya mencapai 4 ton per hektare, tahan rebah dan beras wangi.

Selain di lapangan, pelaksanaan karakterisasi juga dilaksanakan di BPTP Balitbangtan Sumsel. Cakupan karakterisasi padi lokal pada masing-masing lokasi berkaitan dengan informasi umum dan informasi teknis.

Rencana tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah mengkarakterisasi informasi teknis (mencakup karakter batang, daun, malai dan gabah) oleh Tim SDG di BPTP Balitbangtan Sumsel. Selanjutnya Tim akan mendaftarkan varietas lokal tersebut ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP).

Pendaftaran varietas lokal ini sebagai milik Pemda Kabupaten Muara Enim. Selanjutnya pelaksanaan pengembangan varietas tersebut dalam skala luas merupakan dukungan Pemda sebagai bentuk pembangunan daerah dan pelestarian varietas lokal ini.

Harapannya ke depan, materi gen varietas lokal ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung program penciptaan VUB (Varietas Unggul Baru) padi dataran tinggi spesifik Sumsel, maupun dataran tinggi pada umumnya di Indonesia. 

Sumber: EAP/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID