logo rilis
BPTP Banten Kembangkan Hijauan Berkualitas di Lahan Terbatas
Kontributor
Fatah H Sidik
24 April 2018, 22:24 WIB
BPTP Banten Kembangkan Hijauan Berkualitas di Lahan Terbatas
Tanaman hijau yang dikembangkan BPTP Banten di lahan terbatas di Kecamatan Tigaraksa, Tangerang, untuk mendukung Program Upsus Siwab. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Tangerang— Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten melaksanakan percontohan budi daya hijauan pakan ternak bersama Kelompok Bina Karya dan Kelompok Peusar di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Tujuannya, menyukseskan Program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus Siwab).

Dalam melaksanakan percepatan diseminasi teknologi ini, tanaman hijau yang diintroduksi BPTP Banten seperti rumput gajah jenis Taiwan (pennisetum purpureum cv. Taiwan), rumput gajah mini/odot (pennisetum urpureum cv. Mott), serta rumput setaria (Setaria sphacelata). Sedangkan golongan legume yang ditanam, indigofera.

Perbedaan
Legume merupakan hijauan pakan ternak yang mengandung bahan makanan dari jenis kacang-kacangan. Perbedaan mendasar antara legume dan rumput, terdapat pada komposisi gizi, tipe daun, serta batang.

Legume kaya akan protein dibanding rumput. Namun, daunnya lebih lebar dan tumbuh pada percabangan, sedangkan rumput daunnya panjang dan tumbuh di setiap buku. Untuk batang, legume lebih keras dan rumput cenderung lunak.

Percontohan budi daya hijauan pakan ternak oleh BPTP Banten sendiri dilakukan di lahan terbatas, tiga hektare. Bahkan, setiap saat dapat diambil alih pengembang.

Teknik Tanam
BPTP Banten pun menerapkan teknologi yang murah dan mudah dalam membudidayakan rumput dan legume itu. Pertama, tanpa olah tanah sempurna dan tanpa guludan. Persiapan tanam cukup dengan membersihkan gulma di sekitar lubang tanam dan ke dalamannya sekira 35 centimeter. Tiap lubang diberi pupuk organik hasil limbah padat sapi sekitar 0,5-1 kilogram.

Kedua, rumput gajah dcv Taiwan ditanam menggunak stek rumput 25-30 centimeter (2-3 mata ruas). Sedangkan rumput gajah mini/odot dan setaria, melalui sobekan rumpun dengan jarak tanam bervariasi. Tapi, BPTP Banten dalam demplot tersebut memilih 80 centimeter x 100 centimeter dan 100 centimeter x 100 centimeter. Jika ingin menggunakan teknik ini, disarankan menanam rumput gajah dua stek tiap lubang dengan kemiringan tanam 450. 

Adapun sistem tanam legume (indigofera) melalui penyemaian benih, baik dalam tray maupun langsung di lahan. Pindah tanam saat tinggi tanaman 30 centimeter serta setiap lubang satu benih dengan jarak tanam 100 centimeter x 100 centimeter.

Ketiga, pemeliharaan. BPTP melakukan penyiangan sekaligus pemupukan setiap bulan. Keempat, panen. Waktu panen rumput lebih cepat dibanding legume.

Panen pertama rumput gajah dan setaria umur 90 hari setelah tanam (HST), dan selanjutnya di umur 60 HST. Teknik pemotongan batang dan daun menyisakan tanaman sekitar 10-15 centimeter. Sementara indigofera, panen pertama umur delapan bulan dan selanjutnya 60-90 HST dengan teknik pemotongan satu meter dari permukaan tanah.

Introduksi budi daya rumput dan legume berkualitas, bertujuan menyediakan makanan ternak yang memliki nutrisi tinggi, tahan terhadap kekeringan, serta tetap tersedia saat kemarau. Nutrisi yang dibutuhkan ternak, meliputi karbohidrat/energi, protein, vitamin, mineral, dan air.

Jika rumput dan legume yang diintroduksikan dan dikombinasikan dengan tepat, maka kaya akan gizi dan dapat memenuhi kebutuhan tumbuh kembang ternak. Dari beberapa literatur, kandungan serat kasar (SK) yang terdapat dalam rumput gajah cv. Taiw??an sekitar 34,2 persen, rumput gajah cv. Mott/odot 26,98 persen, rumput setaria 32,5 persen, dan indigofera 17,83 persen. Sedangkan kandungan protein kasar (PK), rumput gajah cv. Taiwan 9,79 persen, rumput gajah cv. Mott/odot 13,94 persen, setaria 8,3 persen, dan indigofera 24,17 persen.

Apabila penerapan budidaya hijauan secara optimal, seperti olah tanah sempurna dan pemupukan berimbang, potensi produksi yang dihasilkan rumput gajah cv. Taiwan segar mencapai 300 ton per hektare per tahun, rumput gajah cv. Mott 60 ton per hektare, setaria 170 ton per hektare per tahun, serta indigofera 52 ton per hektare per tahun. 

Melalui diseminasi teknologi tersebut, tim pendamping berharap, perilaku peternak berubah dan muncul minat serta motivasi hingga adopsi teknologi. Soalnya, adopsi teknologi merupakan salah satu kunci peningkatan produksi ternak. Pendampingan teknologi sendiri dilaksanakan tak sebatas mendukung kesuksesan program, tapi muaranya adalah kesejahteraan petani.

Sebagai informasi, percontohan budi daya hijauan pakan ternak tersebut dilakukan di lahan terbatas, karena sebagian besar wilayah di Tangerang dikuasai swasta, khususnya industri. Keputusan menjadikan Tangerang sebagai sentra pengembangan sapi potong, mendorong diseminasi itu dilakukan.

Sekitar 73,8 persen (40.534 ekor sapi) dari total 54.898 ekor sapi di Banten, sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, berada di Banten. Mayoritas disumbang swasta (feedloter), tujuh perusahaan. Perinciannya, populasi feedloter 31.907 ekor, peternak rakyat 7.067 ekor, dan pedagang 1.560 ekor.

Perusahaan swasta di Tangerang bergerak dengan pola penggemukan. Sedangkan pendampingan, BPTP Banten dan Dinas mengedepankan pola pembibitan. Tujuannya, menjaga kontinuitas usaha peternakan rakyat. Sedangkan pola penggemukan di tingkat peternak rakyat, dapat bekerja sama dengan swasta.

Target utama Program Upsus Siwab sendiri, merupakan meningkatkan populasi dengan parameter kebuntingan dan kelahiran. Tangerang mendapat target akseptor 2.962 ekor (Banten 8.208 ekor) dan kebuntingan 4.482 ekor (Banten 5.746 ekor). Tangerang termasuk wilayah adopter teknologi inseminasi buatan (IB), kabupaten lainnya dalam tahap awal (introduksi/pengenalan).

Keberhasilan Upsus Siwab tergantung kondisi ternaknya. Induk betina dengan skor kondisi tubuh >3 dianggap ideal siap kawin dan bunting. Jika skor <3, perlu mendapatkan perbaikan pakan.

Sumber: Rika Jayanti M/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)