logo rilis
BPTP Banten Hasilkan Paket Teknologi Budidaya Jagung Lahan Sub Optimal
Kontributor
Elvi R
18 Agustus 2020, 17:44 WIB
BPTP Banten Hasilkan Paket Teknologi Budidaya Jagung Lahan Sub Optimal
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Banten— Tahun ini, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten melalui kegiatan kajian dan implementasi paket teknologi budidaya jagung pada lahan kering seluas 2 hektare di Desa Citalahab, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang. Tepatnya di lokasi Poktan Karya Tani.

Kegiatan tersebut bertujuan menghasilkan paket teknologi budidaya jagung spesifik lokasi pada lahan kering sub optimal.

Sarana dan prasarana yang tersedia cukup mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan. Di lokasi telah terdapat gudang penyimpanan, mesin pengering, traktor roda empat, dan mesin pemipil jagung.

Berdasarkan hasil identifikasi Tim Kajian Jagung BPTP Banten, diketahui bahwa permasalahan utama adalah masih rendahnya tingkat produktivitas karena minimnya pengetahuan dan keterampilan petani setempat dalam budidaya jagung. Sementara itu, di wilayah tersebut terdapat potensi lahan yang cukup luas untuk pengembangan jagung.

Lebih lanjut, sarana penunjang seperti alat pengering, gudang penyimpanan serta alat mesin pertanian lainnya juga menjadi faktor penunjang pengembangan jagung di wilayah ini.

Tim Kajian Jagung BPTP Banten yang dipimpin Andy Saryoko kemudian merancang paket teknologi dengan mengkombinasikan berbagai komponen teknologi, serta menginplementasikannya. Plot-plot penelitian juga dirancang untuk mempertajam paket teknologi yang dirancang.

Paket teknologi yang dirancang dan diterapkan antara lain pengaturan populasi tanaman melalui penggunaan sistem tanam double row, penggunaan varietas unggul adaptif berdaya hasil tinggi, peningkatan kualitas tanah dengan penambahan bahan organik, dan pengolahan tanah sempurna. Teknologi lainya berupa pemupukan spesifik lokasi berdasarkan status hara tanah dan pengendalian organisme pangganggu tanaman (OPT).

Sistem tanam double row dengan jarak tanam 25 x 25 x 90 cm dengan dua butir per lubang mampu meningkatkan 20% populasi tanaman jika dibandingkan dengan cara konvensional petani. Sistem tanam ini juga mempermudah pemupukan karena pupuk diberikan di antara barisan tanaman.

Varietas jagung yang digunakan di lokasi terdiri dari lima varietas, antara lain NK 212, P21, BISI 2, BISI 18 dan BIMA URI 14 yang merupakan varietas Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Sinergisme dengan pemerintah daerah melalui kegiatan inipun terjalin. Kegiatan kajian oleh tim BPTP Banten berdampingan dengan demfarm Dinas Pertanian Provinsi Banten. Rancangan paket teknologi yang telah dibuat terdifusi dan diadopsi pada demfarm seluas 10 ha tersebut.

Pengaturan populasi tanaman menggunakan sistem tanam double row yang dikombinasikan dengan berbagai komponen teknologi lainnya meningkatkan produksi hampir 2 kali lipat. Hasil ubinan menunjukkan tingkat produksi sebesar 8-9 ton/ha pipilan kering pada kadar air 14 persen. Sementara itu, rata-rata produksi jagung sebelumnya pada lahan tersebut hanya berkisar 3-5 ton per ha pipilan kering.

Ketua Poktan Karya Tani, H. Iing mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kajian yang dilakukan BPTP Banten karena hasilnya sangat bagus.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kab. Pandeglang, Iping Saripin yang ikut menyaksikan kegiatan panen saat itu menyampaikan optimismenya hasil panen yang baik akan diperoleh petani dengan adanya penerapan teknologi dan pendampingan yang dilakukan BPTP Banten.

“Alhamdulillah produksi jagung dari demplot kajian BPTP Banten memperoleh perkiraan hasil hampir sekitar 10 ton/ha, dan petani mengakui baru mengetahui cara budidaya jagung yang sebenarnya melalui pendampingan BPTP Banten,” jelas Iping.

Dadan Firdaus, Kasie Produksi Dinas Pertanian Provinsi Banten menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan demfarm jagung di lokasi tersebut untuk mendorong peningkatan produksi dan produktivitas jagung di Provinsi Banten. “Harapannya produktivitas jagung semakin meningkat, petani semakin semangat menanam jagung dengan harga yang stabil di pasaran,” jelas Dadan.

Setelah panen usai nanti, Tim Kajian bersama petani dan penyuluh setempat secara bersama-sama akan merumuskan: varietas yang paling adaptif di lokasi, serta merancang waktu tanam yang tepat, serta menyempurnakan paket teknologi yang telah dibuat.

Lebih lanjut, Tim Kajian Jagung BPTP Banten merekomendasikan penggunaan alat dan penerapan mekanisasi pertanian seperti alat penyiang (cultivator weeder) untuk meningkatkan efisiensi serta peningkatan hasil dalam budidaya jagung untuk skala yang lebih luas.

Terkait pemasaran, petani menyampaikan bahwa selama ini hasil panen mereka ditampung oleh sebuah perusahaan di Bogor, namun dengan harga yang masih fluktuatif. Untuk itu, dibutuhkan perhatian instansi terkait untuk mendorong pemasaran jagung menjadi lebih bergairah.

Sumber: BPTP Banten/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID