Home » Inspirasi » Sosok

Bondan Winarno, Kader Gerindra dan 'Pokoke Maknyus'

print this page Rabu, 29/11/2017 | 12:39

KABAR duka itu datang dari dunia kuliner, chef, sastrawan, kolumnis, penulisan investigatif, perbukuan, wartawan, pers dan konsultan. Semua profesi itu terangkum dalam sosok Bondan Winarno yang pagi tadi, Rabu (29/11/2019), meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat, karena sakit jantung.

Bondan belakangan ini lebih dikenal sebagai presenter kuliner di televisi swasta yang salah program acaranya bertajuk Wisata Kuliner sempat diganjar Panasonic Award. Program ini selain menjadi rujukan program sejenis di televisi lain juga melahirkan sebuah jargon yang menjadi rekomendasi bagi sebuah produk kreatif kuliner yang dicecap dan disinggahinya, "pokoke maknyus!"

Program acara kuliner di stasiun televisi yang sebelumnya sangat kaku seperti hanya menonton seorang chef memasak dengan berbagai resepnya, Bondan memilih cara lain dengan menghadirkan kuliner di luar ruang. Dari sanalah terbuka, ternyata ragam kuliner di Indonesia dari cara penyajiannya yang tradisional hingga yang kekinian sangat variatif dan memiliki rating bagus.

Acara ini pun mewabah dan diikuti televisi lain dengan program yang mirip. Sebuah kebiasaan di kalangan pekerja kreatif televisi, bila sebuah acara sukses di televisi lain kendati awalnya dipandang sebelah mata, mereka latah membuat program sejenis.

Tentu, Bondan bukan hanya soal kuliner. Dia dikenal sebagai sosok multitalenta. Ahli wine ini dikenal juga sebagai cerpenis dan penulis cerita bersambung. Penulis, pertama kali mengenal nama Bondan Winarno saat membaca salah satu cerpennya dalam majalah Femina lecek di perpustakaan kecil di sebuah distrik Priangan Timur.

Bondan yang tak pernah lulus kuliah dan sempat menjadi tukang panggul kamera di humas Kementerian Pertahanan ini dikenal sebagai kolumnis spesialis manajemen yang saban pekan menyambangi pembaca majalah Tempo.

Soal-soal rumit dalam dunia usaha dan manajemen ditulis Bondan sangat renyah dan  inspiratif. Kumpulan kolomnya itu kemudian dibukukan berjudul Seratus Kiat Bisnis, Jurus Sukses Kaum Bisnis yang diserbu pembaca dan beberapa kali cetak ulang.

Buku lain yang juga sangat terkenal di kalangan pegiat penulisan investigatif, Bre-X Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Buku ini tentang kejahatan korporasi kadungan emas di Busang, Kalimantan Timur, oleh perusahaan multinasional Bre-X Corp. demi menaikkan harga saham internasional.

Tulisan berawal dari kecurigaan Bondan atas peristiwa bunuh dirinya Manajer Eksplorasi PT Bre-X Corp Michael de Guzman dengan cara meloncat dari atas helikopter. Dari kondisi mayat dan juga ada kabar Guzman menggunakan gigi palsu, mayat di rumah sakit itu ternyata jasad sandiwara. Gusman raib (selamat) entah ke mana.

Buku itu dalam sejumlah pelatihan penulisan investigatif kerap menjadi bacaan wajib dan acuan kurikulum bagi peserta penulisan. 

Bondan juga sempat didapuk menjadi Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan dari 2001 hingga 2003. Selepas dari harian sore ini kemudian menjadi salah satu komisaris di portal berita deticom.

Kendati menjadi seorang komisaris naluri jurnalistiknya untuk terjun ke lapangan tak ada yang kuasa membendungnya. Padahal sangat berisiko dan berbahaya bagi nyawanya sendiri. Misalnya ketika Bondan bersama komunitasnya, Jalansutra, menembus Aceh pascatsunami 26 Desember 2004. 

Dari sana juga Bondan melaporkan, mengisahkan dan memotret langsung dampak gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh serta menewaskan sedikitnya 115.000 orang. Tulisan berserinya di harian sore Suara Pembaruan sangat sastrawi dan humanis.

Kini, kader Gerindra kelahiran Surabaya 29 April 1950 ini telah meninggalkan semua aktivitas dan menanggalkan semua profesinya. Termasuk meninggalkan keluarga dan kediamannya yang indah di Jalan Bangsawan Raya, Sentul City, Bogor, Jawa Barat.

Selamat jalan, Pak Bondan!

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

sosok bondan winarno kuliner