logo rilis
Bocah Penyintas Kanker yang Berjuang Tanpa Keluarga,nurul amalia (2)
Kontributor

06 Februari 2018, 15:27 WIB
 Bocah Penyintas Kanker yang Berjuang Tanpa Keluarga,nurul amalia (2)

Saat ini, Nurul sedang istirahat lima minggu untuk menjalani proses kemoterapi tahap ketiga nanti. Selama menjalani pengobatan, Nurul tinggal bersama pasien lain di Rumah Kita, Banda Aceh.

Tak sedikit anak memiliki kondisi yang sama dengan Nurul, tetapi barangkali hanya Nurul yang menjalani pengobatan kanker yang dideritanya sendiri, tanpa dukungan dari pihak keluarga. Kesabaran Nurul tidak seimbang dengan usianya saat ini. 

Nurul akan merayakan ulang tahun ke-10 pada tanggal 13 Mei 2018 nanti. Nurul lahir atas buah cinta Pak Syahrul dan Ibu Irhamni yang akhirnya memilih berpisah sejak Nurul berusia dua tahun.

Nurul kecil dititip tinggal bersama neneknya yang sudah berpulang juga pada Maret 2017 lalu.

Kehilangan orang-orang yang dicintainya menempa Nurul kecil untuk bisa melakukan hal-hal yang terkait dengan dirinya, semuanya dilakukan sendirian.

“Selama proses kemoterapi, Nurul ditemani relawan di rumah sakit. Secara bergantian, relawan berjaga sampai berhari-hari selama proses kemo dijalani,” ujar Nunu.

Tiga bulan menjalani proses kemoterapi, tak ada pihak keluarga yang mendampingi Nurul, tambah Nunu. Hingga pada pertengahan Desember lalu, Nurul disambangi oleh adik ibunya yang dia panggil Pakwa.

“Kami merasa senang akhirnya setelah menunggu lama ada Pakwa Nurul yang datang ke Banda Aceh, kemudian membesuk Nurul walau tak lama, tapi itu sudah membahagiakannya. Kini sesekali Nurul juga menerima telepon dari ibunya yang bekerja sebagai TKW di negeri seberang,” kata Nunu.

Sambil menunggu proses kemo selanjutnya, Nurul Amalia mengaku ingin sekali pulang ke kampung untuk bertemu dengan saudara-saudaranya.

“Iya, Nurul ingin sekali pulang kampung, sehari aja pun boleh. Nurul rindu sama rumah, jangan-jangan rumah Nurul sudah berganti catnya, Nurul mau lihat, tapi tunggu Ibu Nunu enggak sibuk, biar ada yang antar,” celoteh Nurul. 

Selain mengungkapkan rasa rindu terhadap rumah dan kampung halamannya, Nurul juga mengungkapkan rasa bahagianya bisa ikut merayakan World Cancer Day yang berlangsung di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, minggu lalu.

“Senang Nurul bisa ketemu banyak kawan baru dan abang-abang yang ikut botak sama seperti Nurul,” ucap Nurul dengan gaya khasnya.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Aceh, Darwati A Gani, mengaku, prevalensi penderita kanker di Aceh termasuk anak-anak lumayan tinggi, dan ini dikarenakan minimnya pengetahuan warga tentang kanker, terutama pengetahuan tentang deteksi dini.

“Kini kami terus berupaya untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat. Di dalamnya berisikan program-program promotif dan preventif terhadap kanker di masyarakat agar masyarakat bisa memahami kanker dan mengatur pola hidup sehat mulai dari sekarang,” sebut Darwati.

Berdasarkan data WHO, sebanyak 30-35 persen penyebab kejadian kanker didominasi oleh makanan, sedangkan 20-30 persen disebabkan oleh rokok serta beberapa sebab lainnya. 

Oleh karena itu, Darwati mengajak semua pihak untuk menjadikan data tersebut sebagai cemeti untuk segera mulai membiasakan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat dan menghindari rokok.

Selain itu, faktor ekonomi sering kali menjadi penyebab para penderita kanker terlambat mendapat penanganan medis karena terlambat dirujuk ke rumah sakit.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID