logo rilis
Bocah Penyintas Kanker yang Berjuang Tanpa Keluarga,nurul amalia (1)
Kontributor

06 Februari 2018, 15:15 WIB
 Bocah Penyintas Kanker yang Berjuang Tanpa Keluarga,nurul amalia (1)

Bersama sang buah hati, Zaki (45) duduk di kursi pangkas. Dua pekerja pangkas rambut profesional sudah siap dengan pisau cukur di tangan mereka. Keduanya pun siap untuk digunduli.

Kali ini mereka menggunduli kepala bukan karena tren, melainkan sebagai bentuk dukungan bagi para penyintas (survivor) kanker di Banda Aceh.

“Kita tahu para penderita kanker itu tak punya pilihan, mereka mau tidak mau harus rela kehilangan rambutnya demi menjalani proses kemoterapi, tapi kalau orang sehat sangat punya pilihan untuk rambut mereka,” jelas Zaki saat mengikuti aksi gundul massal dalam rangka memperingati Hari Kanker Internasional yang diperingati setiap 4 Februari, di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Seorang penyintas kanker, Nurul Amalia (9), terlihat duduk dan tersenyum saat melihat Zaki dan anaknya yang sebaya Nurul melakukan cukur rambut. Sambil tersenyum, Nurul membuka kupluknya dan memperlihatkan kepala botaknya sambil berjalan ke arah Sudarliadi, seorang peserta aksi gundul lainnya.

“Alhamdulillah, kami sudah sama botaknya. Coba kita difoto dulu, biar kompak,” ujar Nurul sambil bercanda.

Senin (5/2/2018) pagi, di Rumah Kita (RK)—rumah tempat Nurul tinggal sejak ia memulai pengobatan kankernya, Nurul terlihat segar walau tak beraktivitas.

“Baru selesai minum obat, kali ini libur kemo lumayan lama, ada lima minggu,” jelas Nurul.

Hari-hari Nurul dihabiskan di RK, rumah singgah yang dikelola oleh Yayasan Darah Untuk Aceh (Y-DUA). Koordinator RK, Nurjannah Husien, mengatakan, RK berdiri sejak dua tahun lalu. Tim RK bertemu dengan Nurul pada Agustus 2017, saat Nurul dirujuk ke Banda Aceh karena kondisinya yang buruk.

“Saat itu saya sakit, lemas, dan bibir berdarah, lalu dibawa ke RS Cut Meutia di Lhokseumawe, tetapi kemudian dirujuk ke Banda Aceh,” kisah Nurul yang diamini oleh Nurjannah.

Nurjannah menambahkan, Nurul sempat dirawat di RS Zainal Abidin beberapa hari, kemudian dibawa balik ke kampungnya di Aceh Utara oleh sang ayah.

“Setelah mengetahui diagnosis dokter bahwa Nurul menderita leukimia ALL, keluarga memutuskan membawa Nurul kembali ke kampungnya dan memutuskan untuk tidak berobat di Banda Aceh karena tak memiliki biaya,” jelas Nurjannah, perempuan yang akrab disapa Nunu.

Namun, tutur Nunu, dengan segala upaya, pihak Y-DUA memberi pemahaman agar Nurul bisa menjalani pengobatan di Banda Aceh.

“Kami bersyukur akhirnya Nurul diantar ke Banda Aceh, walaupun kemudian dia ditinggal dan tak didampingi keluarga selama menjalani pengobatan,” ujar Nunu.

Awal Oktober 2017, Nurul kecil pun memulai pengobatan kemoterapinya. Senyum cerianya tak terhapus oleh rasa sakit jarum suntik dan tusukan infus obat kemoterapi yang harus dijalaninya berhari-hari.

Dokter Spesialis Anak di RS Zainal Abidin Banda Aceh, dokter Heru Noviat, mengatakan, dua tahap penting dalam proses kemoterapi yang dijalani Nurul sudah berjalan dengan baik.

“Progresnya bagus sekali, tahap satu dan tahap dua berjalan baik. Nurul sangat jarang ditemui dalam kondisi lemah dan mual. Hanya saja, dampaknya pada kerontokan rambut, dan itu tidak membuat jiwanya labil. Dia sangat besar hati menerima kondisinya untuk anak umur segini,” jelas dokter Heru.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID