logo rilis
BKPM Sasar Investor Rusia dan Timur Tengah
Kontributor
Syahrain F.
30 April 2018, 20:19 WIB
BKPM Sasar Investor Rusia dan Timur Tengah
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengincar investasi dari Rusia, Timur Tengah, Australia dan Uni Eropa untuk mengimbangi investasi dari negara-negara Asia Timur.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, konsentrasi asal investasi ke Indonesia belakangan datang dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Cina, Korea Selatan Hong Kong dan ditambah negara Asia Tenggara yaitu Singapura.

“Memang betul, ini mengandung risiko tersendiri. Kita jadi tergantung siklus perekonomian di Asia Timur. Sesuai instruksi Presiden bahwa perdagangan, pariwisata dan investasi agar mengembangkan destinasi non tradisional,” ujar Lembong saat menjelaskan “Realisasi Investasi Triwulan I/2-18 di Jakarta, Senin (30/4/2018).

Singapura menjadi negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Indonesia yaitu 2,6 miliar atau 32,6 persen dari total investasi triwulan I/2018 sebesar 185,3 triliun.

Menurut Lembong, Singapura memiliki banyak modal yang mendukung investasi. Contohnya, investasi dari India dan Cina yang masuk ke negara tersebut kemudian ditanamkan di Indonesia.

Sementara Jepang menjadi negara kedua dengan nilai investasi tinggi di Indonesia sebesar US$1,4 miliar. Korea Selatan masuk dengan investasi US$900 juta, disusul Cina dengan US$700 juta dan tempat terakhir adalah Hong Kong dengan US$500 juta.

Cina, menurut Lembong, meskipun masih di bawah Jepang, pertumbuhan investasinya naik konsisten. Lembong yakin investasi Cina di Indonesia akan terus berkembang seiring terus berkembangnya perekonomian di negara tersebut.

Cina saat ini menjadi negara mitra dagang nomor satu dengan banyak negara-negara di dunia, termasuk Indonesia dan mempunyai wisatawan terbesar di dunia.

“Jadi secara matematis, Cina menjadi salah satu investor terbesar di hampir semua negara di Asia Pasifik, bahkan di dunia. Saya kira itu tren otomatis yang sudah pasti, bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk seluruh negara di dunia," jelasnya.

“Kita memang over exposure pada Asia Timur. Itu benar, itu fakta lama dan kita coba diversifikasi,” lanjut Lembong.

Australia menjadi incaran Lembong karena mempunya dana investasi yang berasal tabungan masyarakat sekitar US$20 miliar. Dana tersebut bisa ditarik ke Indonesia dengan menyediakan kenyamanan dan keamanan investasi.

“Kalau bisa beri kenyamanan, bisa memicu arus modal dari Australia ke Indonesia, itu penting,” ujar dia.

Menurut Lembong, tidak semua investasi datang dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Namun bisa masuk melalui pasar modal dengan obligasi sekuritas atau saham. Selain itu juga bisa masuk melalui perbankan.

Salah satu cara untuk mendatangkan investasi dari Australia kata Lembong adalah dengan segera menyelesaikan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau (IA-CEPA). Agar ada pasal perlindungan investasi dari Australia.

Begitu juga dengan Uni Eropa, Indonesia harus segera menyelesaikan negosiasi Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IU-CEPA) untuk menarik minat investasi.

“Kita ketinggalan dibandingkan dengan Vietnam yang punya perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Merepa punya pasal-pasal perlindungan investasi,” ujar Lembong.

Sumber: Anadolu Agency


500
komentar (0)