logo rilis

Bisnis Kepercayaan
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
24 November 2018, 06:00 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Bisnis Kepercayaan
ILUSTRASI: HAFIZ

KEKUASAAN politik dalam sistem politik apa pun sesungguhnya merupakan kepercayaan. Kekuasaan tidak lain merupakan kepercayaan rakyat yang dibebankan kepada penguasa.

Dalam sistem demokrasi, kekuasaan politik didapatkan melalui mekanisme Pemilu yang diselenggarakan secara periodik dan berkala, karena rakyat merasa percaya kepada yang dipilih.

Pemilu menawarkan kemungkinan terjadi pergantian kekuasaan. Apabila rakyat percaya kepada pejabat yang kembali mencalonkan diri, maka mereka bisa kembali memilihnya. Sebaliknya, jika mereka sudah tidak percaya, maka bisa memilih calon lain yang menjadi penantang.

Politik, karena itu, sesungguhnya adalah lahan bisnis kepercayaan, karena rasa percayalah yang dijadikan sebagai dorongan untuk ”menitipkan” hak suara.

Dalam sistem kerajaan pun, kepercayaan juga merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Kepercayaan rakyat kepada raja menjadi sumber kepatuhan yang menjadi dasar kepatuhan untuk mewujudkan ketertiban.

Jika sudah tidak ada lagi kepercayaan kepada seorang raja atau ratu, maka pasti akan muncul huru-hara dan bahkan sampai kepada kudeta atau pemberontakan untuk menjatuhkan penguasa mutlak yang sekalipun dianggap mutlak itu, kemudian diganti oleh orang lain yang dianggap bisa dipercaya.

Banyak pergantian raja oleh seseorang dari dinasti lain yang menunjukkan bahwa kepercayaan kepada seorang pemimpin sesungguhnya merupakan hal utama.

Dalam segala masa, kepercayaan rakyat bisa diperoleh dengan cara yang benar dan juga tidak benar.

Cara yang benar akan membuat politik menjadi medan yang mencerdaskan dan mencerahkan. Dan bagi politisinya, kekuasaan itu akan menjadi amal baik yang bias dipertanggungjawabkan secara spiritual.

Sebaliknya, cara yang tidak benar, membuat politik menjadi lahan penipuan. Kebohongan akan didesain sedemikian rupa, sehingga nampak sebagai sebuah kebenaran yang memiliki daya tarik di kalangan rakyat banyak.

Dan jika kebohongan sudah mulai sedikit nampak atau akan terkuak, maka dilakukan upaya sedemikian rupa, sehingga focus perhatian publik teralihkan, atau bahkan kebohongan itu tidak nampak.

Penguasa memiliki kemampuan yang paling baik untuk melakukannya, karena segala sumber daya untuk itu ada padanya. Namun, kepercayaan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar, akan mendatangkan kerusakan bagi negara. Dan politisi yang tidak benar, akan mengalami penyesalan.

Perspektif tentang kekuasaan yang sangat mendalam ini, pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad kepada seorang sahabat bernama Abu Dzar yang menginginkan kekuasaan, padahal sesungguhnya tidak memiliki kapasitas yang cukup.

Aku (Abu Dzar) pernah berkata: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku menjadi pejabat?’. Beliau menepuk bahuku dengan tangannya, kemudian bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan jabatan adalah amanah, dan sungguh ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali orang yang mendapatkannya dengan cara yang benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya.’” [HR. Muslim]

Karena itu, para politisi harus berpolitik dengan baik, dimulai dengan mendapatkan kekuasaan dengan cara yang benar.

Mereka yang sudah mendapatkan kekuasaan, sehingga menjadi penyelenggara negara, tidak boleh melakukan tindakan semena-mena karena merasa memiliki segala sumber daya untuk mempertahankan bahkan untuk menambah kuasa.

Mereka tidak boleh lupa bahwa selalu ada pejuang-pejuang yang berusaha untuk melakukan usaha keras, agar orang-orang yang tidak lagi berpegang teguh kepada amanah atau bahkan telah menyeleweng terus berkuasa.

Mereka bisa saja adalah orang-orang yang ingin berbisnis kepercayaan karena sekadar untuk mendapatkan kuasa sebagai prestise, tetapi juga bisa berasal dari golongan orang-orang yang melakukannya karena keikhlasan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Karena dalam kepercayaan mereka kekuasaan merupakan alat yang sangat signifikan untuk mengarahkan rakyat kepada kebaikan sesuai dengan tuntutan agama.

Dalam keadaan tidak berkuasa, tetapi harus berhadapan dengan penguasa dengan segala sumber daya, peluang untuk menang sangat terbuka. Tentu saja diperlukan upaya ekstra. Harus ada kesadaran tentang arti penting perjuangan, sehingga semuanya dilakukan dengan total.

Dan untuk benar-benar mendapatkan kepercayaan dari lebih banyak orang dibandingkan yang telah percaya kepada penguaasa, seringkali yang terjadi adalah penderitaan, karena tindakan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa untuk menekan dan menghabisi lawan-lawan politik.

Justru tindakan zalim penguasa itulah yang seringkali membukakan mata rakyat bahwa penguasa mereka tidak layak lagi mendapatkan kepercayaan, sehingga harus digantikan oleh orang lain, agar tindakan kedhalimannya bias dihentikan.

Kepada pemimpin baru, mereka menaruh harapan untuk memperjuangkan kehidupan politik yang lebih baik. Hukum alam tentang pergantian kekuasaan seringkali memang meniscayakan adanya para pejuang politik yang tangguh yang telah menunjukkan rekam jejak yang panjang.

Rekam jejak yang panjang itulah yang bisa menyadarkan bahwa pemiliknya adalah yang berhak untuk menjalankan kepercayaan. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)