logo rilis
Biotara, Pupuk Hayati untuk Gali Potensi Rawa
Kontributor
Elvi R
12 Juli 2019, 08:28 WIB
Biotara, Pupuk Hayati untuk Gali Potensi Rawa
Lahan rawa yang ditanami padi. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Lahan rawa merupakan lahan marginal yang memiliki potensi sangat besar untuk dikelola menjadi areal pertanian termasuk pertanian tanaman pangan. Potensi lahan rawa memang maha luas sekitar 34,12 juta hektar, tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun di antaranya baru sekitar 2,27 juta hektar yang dibuka pemerintah secara terintegrasi dengan program transmigrasi dan 3,00 juta hektar dibuka oleh masyarakat setempat secara swadaya. Pembukaan lahan rawa di atas umumnya untuk budidaya padi.

Menurut  Balai Besar Litbang  Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP, 2015) luas lahan rawa yang potensial untuk tanaman pangan (padi sawah) mencapai 14,18 juta hektar. Diperkirakan baru sekitar 6,0-6,5 juta hektar yang telah dimanfaatkan dan hanya sekitar 3,0-3,5 juta hektar yang menjadi sawah atau lahan untuk padi selebihnya masih berupa semak belukar, hutan sekunder atau rawa monoton yang selalu tergenang sepanjang tahun. 

Produktivitas lahan rawa sangat beragam dan sangat tergantung pada kondisi tanah, tata air dan penerapan teknologi terutama pengelolaan lahan dan varietas tanaman.  Berdasarkan tipologi lahan, produktivitas padi sawah eksisting di lahan sulfat masam potensial berkisar antara 3,2 – 4,0 ton gabah kering giling (GKG) per hektare, di lahan sulfat masam aktual berkisar 2,6 – 3,5 ton GKG per hektare , di lahan gambut berkisar antara 2,7 – 3,0 ton GKG per hektare, dan lahan salin berkisar antara 2,6-3,9 ton GKG per hektare. 

Tentu dibalik potensi luasan itu juga banyak kendala di lahan rawa. Kendala utama ialah kemasaman tanah—terutama di lahan rawa sulfat masam—yang tinggi. Di tanah sulfat masam  ada lapisan pirit (FeS2) pada kedalaman kurang dari 50 cm. Dalam keadaan tergenang (suasana reduksi) pirit  aman bagi tanaman karena dalam kondisi stabil. Namun, begitu pirit tersingkap dan mengalami kontak dengan udara (O2), ia akan teroksidasi menjadi asam sulfat yang sangat masam (pH < 3,5). Besi dalam pirit pun berubah bentuk menjadi Fe3+ yang dapat meracuni tanaman.  Apalagi produksi rata-rata padi di lahan rawa rendah, hanya 2-3 ton per hektare. Itu setengah atau kurang dari angka rata-rata hasil padi nasional 6 ton per hektare. Akibatnya lahan rawa pun banyak dibiarkan telantar sebagai lahan tidur.

Menurut Mukhlis, peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, bahwa strategi yang penting di lahan rawa ialah memberi bahan organik sebagai pembenah tanah. Bahan organik menjadi penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang. Agar tujuan itu tercapai bahan organik yang diberikan harus sudah terdekomposisi atau memiliki C/N rasio rendah. Bahan organik segar yang langsung diberikan ke dalam tanah dapat merugikan pertumbuhan tanaman karena terjadi proses immobilisasi nitrogen dan terlepasnya senyawa beracun yang mengganggu tanaman.

Lebih lanjut Mukhlis mengatakan petani di lahan rawa  umumnya menggunakan jerami atau sisa tanaman gulma sebagai bahan organik.  Sayang, bahan tersebut mengandung selulosa yang tinggi dengan C/N ratio yang tinggi. Karena itu mereka membutuhkan proses dekomposisi yang lama. Selama ini petani menggunakan jerami sebagai pupuk organik dengan 2 cara. Pertama, secara langsung yaitu saat panen jerami langsung disebar ke petakan sawah, lalu air dimasukkan hingga tergenang. Jerami mengalami dekomposisi di lahan. Kedua, cara tak langsung. Jerami dikomposkan dulu lalu disebar ke lahan. 

??????

Pemanfaatan langsung sangat menguntungkan untuk menghemat biaya dan tenaga kerja, tapi jerami baru terdekomposisi lebih satu bulan. Badan Litbang Pertanian berhasil menemukan inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung mikroba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa.  Setelah jerami disebar ke petakan, Biotara disebar sehingga perombakan lebih cepat. Biotara juga tetap efektif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena diseleksi dari mikroba unggul di lahan rawa. 

Petani dapat memetik keuntungan lain karena Trichoderma dalam Biotara berperan sebagai pengendali penyakit tular tanah (soil borne disease). Biotara juga diperkaya mikroba pelarut-P Bacillus sp, dan penambat N Azospirillium sp yang hidup di lahan rawa. Maka, seperti pupuk hayati lain Biotara  dapat meningkatkan kesuburan tanah, menghemat pupuk, meningkatkan hasil, dan mengurangi pencemaran lingkungan. 

Ketiga mikroba dalam Biotara itu, berdasarkan penelitian Badan Litbang Pertanian dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan posfor sampai  30 persen serta meningkatkan hasil padi di lahan rawa sampai 20 persen. Jadi, dengan teknologi pupuk hayati—Biotara—bukan mustahil menyulap lahan rawa  menjadi lahan padi produktif dengan hasil 6-7 ton per hektare. Hal diakui oleh Ubed, petani rawa pasang surut Desa Sido Mulyo, Kec. Anggana, Kab. Kutai Kertanegara (Kaltim), dengan menggunakan Biotara memperoleh hasil 6,8 ton GKG per hektare dibandingkan sebelumnya hanya memperoleh rata-rata 5-6 ton GKG per hektare. Keuntungan lain, dapat menghemat penggunaan pupuk kimia, hanya 2/3 dari dosis rekomendasi.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID