logo rilis

Bioprospeksi Fitohormon Tingkatkan Vigor dan Kualitas Buah Cabai
Kontributor

28 Maret 2018, 13:51 WIB
Bioprospeksi Fitohormon Tingkatkan Vigor dan Kualitas Buah Cabai
Tanaman Cabai. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Salah satu program Kementerian Pertanian (Kementan) adalah percepatan peningkatan produksi cabai, di samping percepatan swasembada pangan lainnya seperti padi, jagung, kedelai, tebu, bawang merah, dan daging sapi. Saat ini, sentra produksi cabai masih terkonsentrasi di beberapa wilayah Pulau Jawa dan belum merata di seluruh Indonesia. Dengan demikian, apabila terjadi gagal panen, maka pasokan ke sejumlah daerah khususnya Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) bakal terhambat.

Gaya konsumsi masyarakat yang enggan menggunakan produk cabai olahan dan lebih memilih cabai segar sebagai konsumsi makanan maupun bumbu masak, berdampak pada tingginya harga cabai. Ditambah lagi, jika pasokan cabai segar merosot karena curah hujan tinggi, luas tanam berkurang, maupun hambatan hama dan penyakit. Melonjaknya harga cabai karena tingginya permintaan, sedangkan pasokan kurang karena faktor alam (gagal panen), bakal memicu inflasi.

Beberapa saat lalu, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyebutkan, tingginya harga cabai dapat diatasi jika masing-masing keluarga di Indonesia dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman cabai, dengan Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai).

Balitbangtan sebagai lembaga penelitian dan pengembangan pertanian, menerapkan bioteknologi untuk menghasilkan varietas unggul maupun bioprospeksi. Saat ini, Varietas Unggul Baru (VUB) cabai Carvi hasil bioteknologi in vitro yang memiliki produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap virus belang (Chilli Veinal Mottle Virus/ChiVMV), tinggal menunggu Surat Keputusan (SK) pendaftaran untuk peredaran.

Balitbangtan juga mulai bergerak di bioprospeksi dengan mengembangkan fitohormon “Horvic” berbasis senyawa aktif asal Plant Growt Promoting Bacteria (PGPB). Horvic adalah fitohormon atau zat pengatur tumbuh tanaman hortikultura, yang diekstrak dari mikroba endofit terpilih yang diisolasi dari jaringan tanaman. Jenis fitohormon yang dikenal, antara lain golongan auksin, giberelin, steroid dan sitokinin. Untuk Horvic, senyawanya adalah auksin dan giberelin.

Menurut peneliti Balai Besar Biogen Dwi Ningsih Susilowati, sejumlah koleksi bakteri dari tanaman pertanian mampu menghasilkan asam indol asetat (AIA), sejenis fitohormon auksin antara 20 sampai 435 part per milion (ppm).

Horvic mampu memacu percepatan perakaran, fase vegetatif dan generatif, serta mampu merangsang pembungaan dan pembuahan secara serempak, meningkatkan kualitas hasil tanaman cabai, diperoleh dari ekstraksi senyawa aktif dari PGPB terseleksi, dan tidak membahayakan (aman) bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

Cara aplikasinya mudah, cukup disemprotkan sesuai dosis dan waktu rekomendasi pada daun. Pada saat aplikasi, tidak boleh dicampur dengan bahan kimia dan pada saat tidak dipergunakan sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan sejuk. Efektivitas penggunaan fitohormon eksogen selain ditentukan oleh jenis dan jumlah, juga ditentukan oleh formulasi. Untuk Horvic, pemberian pada cabai direkomendasikan aplikasi pertama saat umur tanaman dua minggu (15 HST), aplikasi kedua pada saat tanaman berumur 8 minggu, dan aplikasi ketiga umur tanaman 10 minggu, dengan dosis 3 cc Horvic per 1 liter air (1 liter Horvic per hektare) dengan cara disemprotkan, terutama pada daun tanaman hingga merata.

Fitohormon sebenarnya sudah lama diteliti, namun umumnya bahannya masih impor. Karena itu, karya anak bangsa ini merupakan angin segar dan wujud kemajuan kita dalam penguasaan iptek khususnya bioteknologi.

Sumber: Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)