logo rilis
Bioindustri Tanaman Kopi-Ternak Sapi, Teknologi 'Zero Waste' Sejuta Manfaat
Kontributor
Elvi R
26 April 2018, 11:39 WIB
Bioindustri Tanaman Kopi-Ternak Sapi, Teknologi 'Zero Waste' Sejuta Manfaat
Tanaman kopi yang diintegrasikan dengan sapi. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Bengkulu— Model sistem pertanian bioindustri berbasis integrasi tanaman kopi dengan ternak sapi merupakan sistem pertanian terintegrasi. Teknologi ini menghasilkan kopi dengan didukung produk sampingan hasil pengolahan limbah ternak sapi di antaranya kompos, biourin, biopestisida dan kulit kopi terfermentasi yang dimanfaatkan untuk pakan. Melalui model ini tidak ada biomasa yang terbuang (Zero Waste), sehingga dapat mendukung pertanian berkelanjutan. Arti penting bioindustri adalah sebagai penentu daya saing bagi peningkatan nilai tambah dan pendapatan petani.

Model sistem pertanian bioindustri tanaman kopi dan ternak sapi yang berlokasi di Desa Air Meles dan Talang Ulu, Kecamatan Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu sudah memasuki tahun ke-4. Bahkan, di daerah tersebut, sudah ada implementasi berbagai inovasi teknologi pertanian kepada kelompok tani kooperator. 

"Antara lain, seperti teknologi peremajaan tanaman kopi dengan klon unggul, panen kopi petik merah, teknologi pengolahan kopi bubuk petik merah, dan teknologi pengolahan limbah kulit kopi. Disamping itu, ternak sapi sebagai hasil sampingan," ungkap kepala BPTP Balitbangtan Bengkulu Darkam Musaddad, di Bengkulu, Kamis (26/4/2018). 

Teknologi peremajaan tanaman kopi dilakukan dengan sistem tag ent (sambung samping) menggunakan entres unggul Sintaro-1, Sintaro-2, dan sehasen. "Penerapan inovasi tersebut yang disertai pemeliharaan anjuran dengan pemupukan menggunakan kompos dapat meningkatkan produksi kopi sebesar 134 persen dari 700 kilogram per hektare menjadi 1.696,5 kilogram per hektare per tahun," ungkap Afrizon penanggung jawab kegiatan Bioindustri ini.

Menurut peneliti BPTP Balitbangtan Bengkulu Shannora Yuliasari, kopi bubuk petik merah BioGading merupakan produk utama kegiatan bioindustri tanaman-ternak. Kopi yang dihasilkan melalui penerapan teknologi pengolahan kopi secara basah tersebut memiliki citarasa yang lebih baik memenuhi syarat mutu I menurut SNI 01-3542-2004, aroma khas kopi bubuk yang harum, warna normal (coklat tua), kadar air sebesar 2,15 persen, dan kadar sari kopi sebesar 33,58 persen. 

Produk sampingan yang dihasilkan melalui kegiatan bioindustri tanaman-ternak ini antara lain kompos, biourin dan pakan ternak dari hasil fermentasi kulit kopi. Pengolahan kompos, biourin dan produk pakan ternak menjadi tambahan produk petani dari usahatani kopi dan ternak sapi yang dapat meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan pendapatan petani. Kompos yang dibuat dari kulit kopi dan faeces sapi menjadi produk sampingan yang paling diminati oleh petani pengguna di sekitar lokasi kegiatan. Kompos tersebut telah diaplikasikan pada tanaman kopi, tanaman cabai, tomat dan sayuran lainnya. Saat ini, produksi kompos rata-rata per bulan mencapai 5-6 ton dengan harga jual mencapai Rp 3 juta. Melalui pengolahan kompos tersebut, petani dapat meraup tambahan pendapatan sebesar Rp2.2 juta per bulan.

Sumber: Afrizon/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)