logo rilis

BIN: Indonesia di Tengah Pertarungan Ideologi
Kontributor

28 April 2018, 17:41 WIB
BIN: Indonesia di Tengah Pertarungan Ideologi
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Budi Gunawan, saat memberikan kuliah umum pada

RILIS.ID, Semarang— Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Budi Gunawan, menyatakan, Indonesia berada di tengah-tengah pertarungan ideologi pasca-Perang Dingin. Satu di antaranya, ideologi radikal dengan semangat pan-Islamisme.

Kemudian, tambahnya sela Musyawarah Nasional VI Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (Munas BEM PTNU) di Kampus III Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (28/4/2018), komunisme yang berupaya mempengaruhi kebijakan negara terhadap kelompok proletar. Lalu, kebijakan ultranasionalisme Amerika Serikat (AS) untuk mendorong imperialisme dan dominasinya di dunia.

"Kontestasi ideologi-ideologi ini, melahirkan perebutan pasar ideologi dan pencarian ideologi alternatif, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang memudahkan orang untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang sesuai dengan keyakinannya," ujarnya.

Tolok ukur (benchmark) dari AS, terang BG, sapaannya, kini terjadi pertarungan ideologi antara liberalisme melalui prinsip pasar bebas dengan nasionalisme proteksionis yang mengedepankan "America First" untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Pertentangan tersebut, mengakibatkan polarisasi di masyarakat AS dan menimbulkan kegamangan di kalangan generasi mudanya.

"Sementara RRT (Republik Rakyat Tiongkok), dapat mempertahankan identitas bangsanya yang memiliki ideologi komunis dengan mengakomodasi praktik kapitalis untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya," jelasnya melalui siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, beberapa saat lalu.

Situasi tersebut, menurut mantan Wakil Kepala Polri itu, mengancam kebhinnekaan yang menjadi roh Indonesia. Karenanya, dia menganggap, Pancasila selaku ideologi perekat 663 kelompok suku besar dan 652 bahasa di Tanah Air tengah mendapatkan ujian berat berupa gempuran dari ideologi-ideologi luar.

"Apabila hal ini dibiarkan, maka rakyat Indonesia tidak lagi dapat mengasosiasikan dirinya sebagai sebuah bangsa besar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ancaman masuknya ideologi asing, dapat menggoyahkan ketahanan ideologi nasional, dan berdampak pada kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara," bebernya mengingatkan.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)