logo rilis
BI Sebut, Ini Cara Lepas dari Jeratan Middle Income Trap
Kontributor
Intan Nirmala Sari
12 April 2018, 23:28 WIB
BI Sebut, Ini Cara Lepas dari Jeratan Middle Income Trap
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, BATAM— Bank Indonesia menilai, reformasi struktural kebijakan perekonomian untuk membalikkan defisit transaksi berjalan menjadi surplus, merupakan salah satu kunci bagi Indonesia terhindar dari jebakan stagnasi negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, untuk terhindar dari middle income trap, perekonomian Indonesia harus tumbuh signifikan agar jumlah lapangan kerja mampu melonjak.

Masalahnya, ketika pertumbuhan ekonomi terakselerasi, laju impor juga akan mengekor naik, karena Indonesia masih membutuhkan pasokan barang baku dan modal dari luar negeri. Sehingga, hal itu akan memperlebar defisit transaksi berjalan dan membuat nilai tukar rupiah semakin rentan terhadap tekanan.

"Banyak negara gagal keluar dari jebakan pendapatan per kapita, penyebabnya masalah struktural yang belum diterapkan di negara itu. Jadi, selalu posisi defisit transaksi berjalan ditambah fiskal defisit," ujar Dody di Batam, Kamis (12/4/2018).

Oleh karena itu, salah satu cara reformasi struktural adalah menggenjot industri berbasis manufaktur yang berorientasi ekspor. Di negara ASEAN lain, ekspor barang hasil industri manufaktur terbukti menjadi pendorong utama surplus transaksi berjalan. Bank Sentral memandang, industri manufaktur yang potensial adalah industri dengan teknologi tinggi, sedang dan padat karya.

"Idealnya, ekonomi Indonesia harus dalam posisi surplus transaksi berjalan," katanya.

Saat ini, Indonesia masih memiliki defisit transaksi berjalan, di mana pada 2017 jumlahnya mencapai 1,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, Bank Sentral menargetkan Indonesia masuk kategori negara berpenghasilan menengah ke atas atau penghasilan tinggi dengan rentang pendapatan per kapita US$4.000-12.000.

"Ini yang menjadi tantangan, banyak negara yang gagal keluar dari US$4.000 per kapita," ujarnya.

Adapun saat ini, Indonesia masih terjebak di bias bawah kelompok negara-negara berpenghasilan menengah dengan pendapatan US$3.900 per kapita. Sedangkan dilihat dari data BI 2016, negara-negara yang masuk ke kelompok bias bawah negara-negara berpenghasilan (lower middle income) dengan pendapatan per kapita antara US$1.006-3.955 adalah India, Vietnam, Filipina dan Ukraina.

Sumber: ANTARA


komentar (0)