logo rilis
BI Catat Pelemahan Rupiah di Februari capai 1,65 Persen
Kontributor
Ainul Ghurri
22 Maret 2018, 22:54 WIB
BI Catat Pelemahan Rupiah di Februari capai 1,65 Persen
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Agusman (tengah). FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi (DKom) Bank Indonesia (BI) Agusman, menyadari bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan sepanjang Februari 2018. Hal ini sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan yang disebabkan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. 

"Bulan lalu (Februari), secara rata-rata harian rupiah melemah sebesar 1,65 persen, menjadi Rp13.603 per dolar AS," kata Agusman saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Sementara itu, pernyataan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) Chairman yang lebih hawkish, mendorong ekspektasi pasar bahwa kenaikan suku bunga acuan The Fed (Fed Fund Rate/FFR) berpotensi dilakukan lebih cepat dan lebih tinggi. Hal tersebut mendorong pembalikan modal asing (capital outflow) dan tekanan pelemahan nilai tukar pada berbagai mata uang dunia, termasuk Indonesia.

"Pelemahan rupiah masih berlangsung pada awal Maret 2018, ini seiring memburuknya sentimen pasar terkait penerapan inward oriented trade policy yang dikhawatirkan mendorong retaliasi dari negara lain," jelas Agusman.

Untuk itu, Bank Sentral akan terus mewaspadai peningkatan risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar, sesuai nilai fundamentalnya, dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 21-22 Maret 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,5 persen dan Lending Facility sebesar 5,0 persen, berlaku efektif sejak Jumat (23/3). Kebijakan tersebut, konsisten dengan upaya Bank Sentral menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

"Kami memandang, bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang ditempuh sebelumnya tetap memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik," tandasnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)