logo rilis
BG Senang dengan Perkembangan Masjid di Tanah Air
Kontributor
Fatah H Sidik
28 April 2018, 18:33 WIB
BG Senang dengan Perkembangan Masjid di Tanah Air
Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jenderal (Purn) Budi Waseso (tengah) bersama para takmir masjid se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Sabtu (28/4/2018). FOTO: Dok. pribadi

RILIS.ID, Semarang— Wakil Ketua Majelis Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jenderal (Purn) Budi Waseso, senang dengan pesatnya dakwah dan penyebaran Islam di Tanah Air. Pasalnya, hal itu menunjukkan membaiknya kesadaran keagamaan dan pembinaan akhlak di masyarakat.

"Dalam perjalanan sejarahnya, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk fisik maupun fungsi dan perannya. Alhamdulillah, di mana ada komunitas muslim, di situ ada masjid," ujarnya saat bersilaturahmi dengan takmir masjid se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Sabtu (28/4/2018).

Di masa Rasulullah, terang BG, sapaannya, masjid memiliki multifungsi. Selain sebagai tempat ibadah, juga wadah menimba ilmu (tholabul ilmi), tempat bermasyarakat, dan tempat syiar dakwah Islam. Sehingga, Islam mencapai titik kejayaan dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Namun, ungkap Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu, sekarang muncul kekhawatiran masjid menjadi tempat pengajaran dan penyebaran radikalisme, bibit-bibit terorisme. "Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, apalagi di alam kebebasan berbicara seperti saat ini," katanya via siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, beberapa saat lalu.

Bahkan, tambahnya, belakangan ceramah-ceramah agama di sejumlah masjid banyak berisi materi mengajak orang "berperang" melawan yang berbeda keyakinan dan agama. Tak jarang menggiring jemaah melakukan kekerasan atas nama agama dan menyebutnya sebagai jihad mulia yang balasannya adalah surga.

"Banyak generasi muda yang punya semangat keagamaan tinggi, tetapi tidak cermat dan kritis memilah dan memilih sumber referensi. Akhirnya, ikut bergabung demi imajinasi indah yang menyesatkan," sesal mantan Wakil Kepala Polri itu.

Kekhawatiran BG lainnya, kelompok intoleran tengah melakukan sejumlah aksi yang merugikan umat Islam. Dia mencontohkan dengan kejadian di Timur Tengah yang hancur pascagelombang Arab Springs. "Fenomena ini terjadi bermula dari khotbah intoleran dan radikal yang dikembangkan di masjid," bebernya.

Khotbah para pengikut intoleran dan radikal, tegas dia, berbeda dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Rasullah menekankan implementasi takwa dalam konteks kehidupan sehari-hari. "Sedangkan kelompok intoleran, menekankan pada tema politik dan hasutan-hasutan yang merusak citra pemimpin dan citra umat Islam yang ingin mengajarkan Islam rahmatan li lalamiin," tuntasnya.

 


500
komentar (0)