logo rilis
Bertemu Dubes Rusia, Menteri Amran Minta Dukungan soal Sawit
Kontributor
Fatah H Sidik
08 Juni 2018, 20:48 WIB
Bertemu Dubes Rusia, Menteri Amran Minta Dukungan soal Sawit
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) bersama Duta Besar Rusia untuk Indonesia Yudmila G Vorobiva (kiri) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (8/6/2018). FOTO: RILIS.ID/Humas Kementan

RILIS.ID, Jakarta— Indonesia dan Rusia bersekapat menjalin kerja sama di bidang pertanian. Kesepakatan dihasilkan saat Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Yudmila G Vorobiva, menyambangi Kantor Kementeria Pertanian, Jakarta, Jumat (8/6/2018).

"Kita tahu, kita impor gandum dari Rusia. Tapi, kita juga ekspor palm oil, karet, kakao, dan beberapa produk pertanian lain ke Rusia," ujarnya usai pertemuan.

Kesempatan tersebut, pun dimanfaatkan Menteri Amran untuk menggalang dukungan terkait kritik Eropa terhadap sawit Indonesia. "Kami minta Rusia melakukan counter act sehubungan palm oil dari Indonesia," katanya. "Dan mereka setuju," imbuh dia.

Terkait isu sawit, menurut pembantu Presiden asal Bone ini, seharusnya Eropa juga meninjau kesejahteraan petaninya (community wealth), tak sekadar lingkungan hidup (environtment).

Katanya, ada 30 juta orang yang tergantung pada sawit. Jika Eropa terus mempersoalkan sawit, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) merosot.

"Ssecara tidak langsung, akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Masyarakat bisa pindah membabat hutan," ucap Menteri Amran mengingatkan.

Kerja Sama
Selain sawit, Indonesia bakal mengekspor buah-buahan ke Rusia. Mangga, dan Salak, misalnya. "Kita ingin buah-buahan juga mengikuti sukses jagung, bawang dan ayam yang sudah ekspor," katanya.

Sementara itu, Vorobiva menerangkan, Rusia ingin impor sawit dari Indonesia, lantaran menjadi salah satu produsen terbesar. "Indonesia salah satu negara yang memproduksi minyak sawit paling banyak di dunia," jelasnya.

Rusia, imbuh dia, juga ingin impor karet, kopi, teh, dan kakao dari Indonesia. "Tentu sesuai dengan syarat keamanan yg berlaku di Rusia," tuntas Vorobia.


500
komentar (0)