M. Deden Ridwan

Pegiat konten & analis sosial budaya, CEO Reborn Media Inisiatif

Bermartabat (4)

Jumat, 15/9/2017 | 16:39

TAMPAKNYA, untuk menemukan ikon Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat kita harus pergi ke masa lalu sebagai titik pijak. Proses perubahan menuju Indonesia bermartabat berarti menemukan jati diri bangsa ini. Bermodal karakter yang sudah menyejarah, bangsa Indonesia bergerak maju berbasis kepercayaan dirinya. Ia berdiri di tengah-tengah bangsa lain dalam sebuah percakapan dan persaingan global. Setidaknya, untuk menemukan hal ini, perlu merenungkan mengenai sejarah kejayaan militer, sejarah kejayaan sains, dan sejarah kemakmuran yang pernah dicapai bangsa ini.

Telaahnya mungkin akan sangat panjang. Mengingat belum ada kesepakatan dari mana dan di mana sejarah bangsa ini dimulai. Apakah sejak zaman kejayaan Kerajaan Majapahit; kejayaan kerajaan Islam di Samudra Pasai; atau kejayaan kerajaan-kerajaan lain di bumi Nusantara. Belum lagi merujuk pada kenyataan bahwa Indonesia sebagai negeri kepulauan. Masing-masing pulau telah menorehkan sejarah, memiliki akar budaya, serta pernah berjaya berdasarkan karakter unik masing-masing. Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua dari segi keunikan antropologis memiliki keunikan sejarah tersendiri.

Yang paling pendek dan memungkinkan ditelaah adalah dimulai sejak masa kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Indonesia sebagai sebuah nama telah hadir sebagai jati diri bangsa dan negara. Kemuliaannya sebagai bangsa dan negara juga dimulai dengan sesuatu yang sangat bernilai: sebagai bangsa dan negara yang merdeka.

Kemerdekaan memang merupakan modal untuk merajut mimpi dan mewujudkan asa. Sayangnya, ketika hendak merumuskan nilai apa yang hendak diimpikan dan asa yang hendak diwujudkan, bangsa ini menoreh sejarah konflik. Sejak awal bangsa ini memang bangsa yang plural. Pluralisme budaya ternyata, ketika masuk dalam ranah politik, melahirkan sebuah pengorbanan bernama konflik. Dan, sejarah menunjukkan konfliknya tidak sepenuhnya bernuansa perebutan interest politik, namun berkenaan dengan benturan nilai ideologis. Jadi nyaris, konflik sosial-politik merupakan beban sejarah yang harus diselesaikan.

Kemerdekaan Indonesia tertulis dalam tinta emas sejarah memberikan inspirasi kepada bangsa-bangsa lain. Utamanya kawasan Timur dan Selatan. Nama Soekarno sedemikian menyejarah dalam cerita kemerdekaan bangsa-bangsa Timur dan Selatan. Kemerdekaan Indonesia telah membangkitkan kepercayaan bangsa-bangsa Timur dan Selatan yang berabad-abad menjadi negeri jajahan sebagai bangsa yang merdeka. Sebagai bangsa yang berkarakter, melawan dan bersaing dengan kekuatan militer, ekonomi, dan bahkan sains bangsa Barat.

Di era ini, cukup banyak bermunculan pribadi unik yang menghantarkan keharuman nama bangsa. Mereka yang belajar secara otodidak mampu mengajari bangsa lain di even-even pengajaran bergengsi. Sebutlah nama K.H. Agus Salim. Ia menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Amerika Serikat. Dari persepektif mengenai kesadaran pembangunan Indonesia bermartabat, kreativitas atas nama keharuman bangsa inilah yang kelihatannya minim terjadi di masa kini. (Bersambung)