logo rilis
Bermartabat (1)
kontributor kontributor
M. Deden Ridwan
05 September 2017, 10:37 WIB
Penulis, pegiat konten, konsultan, produser & CEO Reborn Media Inisiatif
Bermartabat (1)

BERMARTABAT berarti berdiri tegak. Tidak hanya berkarisma, tapi juga tegak memegang prinsip. Tidak hanya dihargai, tapi juga memiliki kehormatan. Tidak hanya berharga, tapi juga memiliki harga diri. Itu semua dihargai, dihormati, dan dimuliakan oleh yang lain. Bukan hasil manipulasi; bukan pula dampak strategi pencitraan. Akan tetapi, memang penghargaan itu murni datang dari pandangan objektif atas jejak yang ditorehkan dalam berbagai momentum  bersejarah.

Indonesia bermartabat berarti Indonesia yang berdiri tegak. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tidak hanya dalam bentuk kesadaran psikis, bahwa semua bangsa di dunia adalah sama, namun juga mampu menunjukkan competitive  advantage!  Memiliki keunggulan yang khas dan distingtif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Baca Juga

Sebagai sebuah bangsa dan negara, Indonesia nyaris hanya memiliki sedikit catatan sebagai bangsa yang bermartabat luhur. Sang Saka Merah Putih dalam banyak momentum sejarah dunia  jarang berkibar. Baik di arena tingkat Asia Tenggara, Asia, apalagi dalam percakapan dan pergulatan internasional. Sesekali sempat juga mampir penghargaan internasional. Di Olimpiade Matematika dan Fisika (juga bidang-bidang lain seperti ditunjukkan oleh 72 ikon dalam Festival Prestasi Indonesia yang lalu), putra-putri Indonesia sedemikian berprestasi. Sayang, mereka tidak mencolok sebagai ikon tentang bermutunya lembaga pendidikan menengah kita secara keseluruhan.

Perhelatan Sea Games, Asian Games dan Olimpiade, misalnya, semakin hari semakin jarang dihiasi oleh lagu Indonesia Raya dan kibaran Sang Saka Merah Putih. Bahkan dalam kasus sepak bola, sebuah cabang olahraga yang paling populer, Indonesia nyaris kesulitan menemukan pemain berbakat. Pun minim prestasi. Anehnya, dibandingkan bersusah payah berinvestasi untuk mencari dan mendidik pemain berbakat, malah melakukan naturalisasi. Sebuah upaya strategis, tetapi berjangka pendek. Sebuah praktik yang tidak memberikan pembelajaran mengenai bagaimana sejarah karakter bangsa dibangun.

Padahal sejarah pernah mencatat, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia menjadi inspirasi negara-negara Timur dan Selatan. Indonesia pun pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika. Sebuah cita-cita yang ditorehkan para pendahulu untuk menjadikan Indonesia sebagai pemimpin Asia.

Sayang, langkah itu sepertinya bukan hanya tersendat, tetapi juga terhenti. Gerak sejarah kemartabatan Indonesia di mata internasional tertinggal jauh dengan Korea Selatan dan mungkin Afrika Selatan. Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah Olimpiade baru sebatas cita-cita segelintir orang. Namun, Korea Selatan sudah melampauinya. Pun dengan keberhasilan Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kepercayaan internasional kepada Indonesia kini kebanyakan bukan karena bangsanya, tetapi lebih karena kekayaan dan keindahan alamnya. Investasi asing di Nusantara sedemikian berlimpah. Tidak lain karena cadangan kekayaan alam Nusantara sedemikian besar. Sejak Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua dibanjiri investasi asing.

Bahkan, dalam kasus Bali, sebuah pulau yang jauh lebih masyhur dibandingkan dengan nama Indonesia, investasi asing di bidang pariwisata pun sudah semakin menggejala. Lebih menyedihkan lagi, promosi mengenai situasi antropologis Bali di mata internasional lebih banyak dilakukan bangsa asing dibandingkan oleh orang Bali sendiri. Buku mengenai sejarah, kehidupan sosial-religius dan petunjuk mengenai objek wisata lebih lengkap dan lebih baik disajikan para penulis asing. Bukan dari bangsa Indonesia. Pun dengan promosi keindahan alam Raja Ampat, Papua Barat. Ini artinya, bangsa dan negara ini belum optimal mensyukuri dan menyadari berkah yang diturunkan Tuhan ke alam Indonesia.

Juga di sektor eksploitasi kekayaan alam. Tambang emas, tembaga dan batu bara masih belum terintegrasi secara optimal dalam upaya menorehkan sejarah kemandirian bangsa ini. Apalagi di sektor migas. Kendati sudah banyak contoh mengenai nasionalisasi usaha migas di negara berkembang, Indonesia tampaknya masih belum mau mengarah ke sana. Seakan-akan praktik ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam dilakukan dengan praktik jual-beli putus! Juga di sektor perkebunan, kehutanan, dan apalagi di sektor otomotif. (Bersambung)


#Bangsa Bermartabat
#Indonesia Raya
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID