Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID.

Berita yang Saksama, Don't Kill the Messenger

Selasa, 17/10/2017 | 18:06

"SALAH satu yang hingga kini selalu diperdebatkan adalah, apakah surat kabar itu sekadar menjadi cermin dari keadaan masyarakat zamannya, atau surat kabar menjadi biang keladi keonaran dalam masyarakat. Mungkin sekali yang benar adalah di tengah-tengahnya, yaitu surat kabar mencerminkan situasi masyarakat pada suatu ketika, tetapi surat kabar juga dapat mendorong perkembangan dalam masyarakat itu sendiri."

Pernyataan di atas diungkap oleh Suardi Tasrif, dalam tulisannya di buku Visi Wartawan 45 (1993). Ia adalah satu tokoh pers yang disegani. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), guna menghormati tokoh ini, menyematkan namanya untuk penghargaan (Tasrif Award), bagi orang atau lembaga yang memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan nilai-nilai keadilan serta demokrasi. Suardi Tasrif juga dianggap sebagai bapak kode etik jurnalis Indonesia.

Problem yang diajukan Suardi Tasrif di atas memang selalu menggelayuti dinamika dunia perkabaran. Di belahan dunia mana pun ini lumrah terjadi. Terlebih ketika sebuah berita menyangkut hal yang sensitif. 

Di lain sisi, bagi jurnalis, berita adalah berita. Baik atau buruk ia tetap harus dikabarkan. Seorang jurnalis pekerjaannya memang demikian. Mengungkapkan fakta mengabarkan berita. Tak lebih dari itu. 

Berita baik tetaplah berita baik. Begitu pun dengan berita buruk, ia tetap berita. Sebuah peristiwa yang layak diketahui orang banyak agar menjadi pelajaran.

Contoh sederhana, saat ada bencana Tsunami di Aceh, melalui pemberitaan, maka orang dari pelbagai penjuru dapat mengetahui betapa dahsyatnya peristiwa itu. Sehingga, dengan berita itu, orang-orang tergerak untuk membantu. Berita atas tragedi ini dapat menjadi tenaga yang menggerakkan solidaritas dunia. 

Ada yang mengatakan, "Berita buruk adalah berita baik buat wartawan." Di satu sisi, bisa jadi dugaan ini menemui kecocokan. Tapi, dunia hari, tentu tak lagi bergerak seperti ketika pandangan semacam ini hadir di ruang publik. 

Pers, saat ini, sangatlah mudah untuk dikontrol dengan ketat oleh publik. Bahkan, batas antara pers dan pembaca seolah hanya setipis kulit bawang. Sedekat ibu jari dan papan smartphone. Terlebih di era, meminjam istilah James Surowieki, "The Wisdom of Crowds" sekarang ini. Era digitalisasi informasi. Zaman "Mbah Google". Setiap orang dapat saling membantu untuk menelisik mana informasi yang benar, mana berita bohong dan kotor.

Lebih-lebih, sekarang orang per orang dengan mudah bisa mendirikan penerbitan pers sekaligus menjadi pewarta. Jurnalis yang memang sedari awal adalah profesi terbuka, di era digital ini, membuat semua orang dapat menjadi pelaku, bahkan semua orang bisa menjadi jurnalis warga. 

Tentu saja, sebagaimana profesi lain, jurnalis bisa saja melanggar batas api tugas profetik profesinya. Sangat mungkin ada jurnalis yang terjebak dalam suasana. Menjadi bagian dari konflik. Tersandung oleh kepentingan yang kadang memaksanya berkhianat pada hati nurani. Menjadi proxy atas suatu kepentingan. Posisi serupa ini tentu saja tak tertutup kemungkinan membuat jurnalis menjadi tak berjarak. Kehilangan objektivitas. Tak lagi bisa saksama. Tak lagi cermat menjaga akurasi. Limbung dan menjadi tak adil. Ingin mengungkap kebenaran tapi terjebak keonaran.

"Sebuah suratkabar harus sungguh-sungguh saksama, suratkabar mestilah bersih, surat kabar harus menghindarkan sesuatu jang kotor dan sugestif, sesuatu jang dapat melukai tjitarasa yang baik, atau menurunkan nilai moril pembatjanja; akan tetapi pembatasan-pembatasan ini adalah menjadi kewadjiban sebuah suratkabar untuk menjiarkan berita." Alinea ini adalah kalimat Joseph Pulitzer, yang tertera dalam buku Wartawan Wartawan Berbitjara (1961). 

Jurnalisme idealnya memang hadir untuk mengatasi prasangka. Membongkar dusta. Membungkam desas-desus. Mengungkap kebenaran dengan cara yang benar. Meluruskan dengan cara yg lurus. Bukan sebaliknya, meluruskan dengan cara yang bengkok. 

Alhasil, meski tak ada yang rela ditulis buruk. Namun, fakta tetaplah fakta. Seorang jurnalis, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, boleh mengikuti hati nurani mereka. Tentu saja, setelah memenuhi kewajiban sebelumnya. Seperti, kewajiban pertama jurnalisme, untuk terikat pada nilai kebenaran. Di sisi lain, jurnalisme diwajibkan menempatkan loyalitasnya kepada warga sebagai sesuatu yang utama. Serta elemen jurnalisme lain. 

Demikianlah, apa pun pembatasan-pembatasannya, kewajiban sebuah penerbit pers tetaplah mengabarkan berita. Jadi, Don't kill the messenger.