logo rilis
Berita Penyerahan Ghouta Timur ke Rezim Assad Dibantah
Kontributor
Syahrain F.
02 April 2018, 17:27 WIB
Berita Penyerahan Ghouta Timur ke Rezim Assad Dibantah
Penduduk meninggalkan Ghouta Timur. FOTO: AFP

RILIS.ID, Douma— Anggota dewan di wilayah Douma, Suriah, membantah laporan yang menyebut penyerahan Ghouta Timur ke rezim Bashar Al-Assad merupakan bagian dari kesepakatan antara pihak rezim dengan kelompok oposisi.

Iyad Abdelaziz, salah seorang anggota dewan Douma mengatakan, tidak ada perjanjian yang disepakati antara kelompok Jaisyul Islam dengan rezim Assad yang difasilitasi Rusia.

Sebelumnya, kemarin (1/4/2018), dalam pemberitaan media pro pemerintah telah disebutkan, Jaisyul Islam, sebagai kelompok yang menguasai Ghouta Timur, dipaksa meninggalkan kota itu dan menyerahkannya ke rezim sebagai bagian dari kesepakatan.

Iyad berupaya meluruskan pemberitaan yang dinilainya tidak didasari dengan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan. Namun, Iyad membenarkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir evakuasi penduduk Ghouta Timur telah berjalan.

Jaisyul Islam juga mengonfirmasi mengenai evakuasi tersebut. Kelompok itu dikabarkan telah menjalani proses negosiasi dengan rezim Suriah yang dimoderatori oleh Rusia.

Namun, melansir dari Al Jazeera, upaya mediasi itu nampaknya tak berjalan mulus dikarenakan rezim Suriah mengancam akan membombardir basis terakhir pertahanan Jaisyul Islam di Douma, di Ghouta Timur, jika kelompok itu tak juga menyerah. 

Posisi itu sangat menyulitkan bagi Jaisyul Islam karena rezim hanya mensyaratkan "penyerahan" sebagai ganti dari evakuasi penduduk Ghouta Timur.

"Posisi kami sangat konsisten dan jelas. Kami menolak dipindahkan secara paksa dan menolak perubahan demografis (kekuatan) di Ghouta Timur," kata juru bicara Jaisyul Islam Hamza Berakdar.

Ada sekitar 140.000 penduduk yang hingga saat ini masih berada di Douma. Mereka mengalami kesulitan mendapatkan air, suplai makanan, dan medis.

Wilayah Ghouta Timur dikuasai kelompok oposisi pada 2013. Sejak itu, pasukan rezim Assad memblokade akses kebutuhan sehari-hari ke wilayah tersebut.

Diperkirakan 1.600 orang terbunuh sejak jet-jet tempur tentara rezim dan Rusia membombardir Ghouta Timur sejak 18 Februari  lalu.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)