logo rilis
Belajar dari Bejo Supriyanto, Petani Bawang Putih Karanganyar
Kontributor
Fatah H Sidik
03 Mei 2018, 21:28 WIB
Belajar dari Bejo Supriyanto, Petani Bawang Putih Karanganyar
Bejo Supriyanto, petani bawang putih Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

DI balik perawakannya yang kecil, tersimpan semangat besar. Meski penampilannya sederhana, tapi semangatnya tak pernah putus.

Begitulah Bejo Supriyanto, petani bawang putih Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Keuletannya mengantarkan benih varietas Tawangmangu Baru mendapatkan sertifikat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jateng, empat tahun lalu.

Butuh perjuangan belasan tahun agar benih lokal itu bersertifikat. "Perjuangan Tawangmangu berlabel 12 tahun," ujarnya sela Rakor Pengembangan Bawang Putih di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (3/5/2018).

Bukan cuma sertifikat, Bejo pun sudah "kenyang makan asam garam kehidupan" budi daya bawang putih. Dari masa kejayaan hingga kemunduran produksi komoditas bumbu dapur ini pada 1990-an.

Saat kedigdayaan bawang putih nasional tumbang oleh serbuan impor pada 1990-2000-an, harganya cuma Rp2.000 per ton. Sejumlah petani pun menanam komoditas lain. Tapi, Bejo tetap berkutat mengembangkannya, seperti yang dilakukan sejak zaman buyutnya.

Selain tradisi keluarga, budi daya bawang putih tetap digelutinya karena meyakini filosofi Jawa. "Kalau bawang putih suatu saat akan ada harganya," ucapnya bersemangat.

Pertimbangan sederhana lainnya, cuma wawasan tanaman bawang putih yang dimilikinya serta ingin menyebarluaskan benih Tawangmangu Baru. Meski tak lulus SMA, upaya Bejo turut menjaga eksistensi benih Tawangmangu Baru, meski cuma mampu memenuhi kebutuhan domestik.

(Bawang putih varietas Tawangmangu Baru mendapatkan sertifikasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik)

Pada 2014, ketelatennya berbuah manis. Harga bawang putih rebound dan mulai menggiurkan. Nilainya pun terus melonjak. Di 2017, bawang putih konsumsi simpan kering di rumah dua minggu harganya menjadi Rp20 ribu-Rp25 ribu per kilogram.

Sebelum Peraturan Menteri Pertanian tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (Permentan RIPH) terbit, hanya dihargai Rp15 ribu-Rp17.500 per kilogram. "Itu baru awal," ucapnya.

Harga kembali merangkak di Oktober-November. Bawang putih konsumsi basah harganya Rp30 ribu per kilogram dan Rp40 ribu per kilogram untuk simpan kering satu bulan. Januari 2018, harga bawang putih masih naik.

Begitu pula untuk benih bawang putih. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rejeki Kalisoro ini melepasnya di harga Rp70 ribu per kilogram pada Desember 2017-Februari 2018. "Harga fenomenal," ungkapnya.

Bejo pun memperluas pengembangan bawang putih. Biaya diambil dari keuntungan yang didapatkannya. Sebagian lain dari laba dipakai untuk membayar utang untuk beproduksi sebelumnya dan memperbaiki rumah. "Ada juga untuk tabungan," akunya.

Kata Ketua Taruna Tani Maju itu, terkereknya harga bawang putih tak lepas dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) mewujudkan swasembada bawang putih. Salah satunya, Permentan RIPH.

Dalam regulasi tersebut, importir hortikultura diwajibkan tanam bawang putih sebesar lima persen dari rekomendasi yang diajukan. Jika tidak, swasta takkan mendapatkan izin impor untuk tahun berikutnya.

Ada juga transfer pengetahuan (knowlegde) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP) Jateng. Ilmu yang didapatkan langsung diterapkan, seperti pemakaian pupuk yang pas, jarak tanam, serta penggunaan pupuk hayati. "Empat sehat, lima sempurna," seloroh petani kelahiran 1975 ini.

Meski harga bawang putih, baik benih dan konsumsi masih tinggi, Bejo tak mau egois dan berharap tiada perubahan. Yang diinginkannya hanya sinergi antara petani, pemerintah, dan konsumen. Sehingga, terciptanya keseimbangan harga pasar.

"Kalau petani tidak rugi, pemerintah tidak bingung, konsumen bisa beli," jelasnya. Bila petani egois, tambah dia, "Malah akan jadi bumerang bagi petani. Konsumen bingung, tidak mau beli. Pemerintah bingung, pasti satu, keran impor dibuka lagi."

Harapan sederhana Bejo lain, pemerintah mempertahankan aturan wajib tanam dan produksi bawang putih oleh importir. Dirinya khawatir terjadi kesenjangan, bila sebatas wajib tanam. "Kalau pengin petani jalan, kuota lima persen tetap, tapi tolong di-monitoring," pungkasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)