logo rilis
Bekraf: Tiga Kunci agar Produk Ekonomi Kreatif Mulus saat Penetrasi Pasar
Kontributor
Elvi R
06 Juni 2018, 21:00 WIB
Bekraf: Tiga Kunci agar Produk Ekonomi Kreatif Mulus saat Penetrasi Pasar
Deputi Bidang Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santosa Sungkari dalam diskusi Menuju 2020: Indonesia sebagai Ekosistem Digital di ASEAN yang diselenggarakan Indosterling Forum. FOTO: RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta— Deputi Bidang Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santosa Sungkari mengatakan, setidaknya ada tiga syarat agar produk ekonomi rakyat mampu diterima pasar. 

Hal ini disampaikannya dalam diskusi Menuju 2020: Indonesia sebagai Ekosistem Digital di ASEAN yang diselenggarakan Indosterling Forum, di Jakarta, Selasa sore (5/6/2018).

Lebih lanjut, Hari menuturkan, syarat pertama yakni, desain yang mengikuti pasar. Artinya ada kreasi dan inovasi yang dibubuhkan. Kendati demikian, tanpa mengurangi unsur kearifan lokal. 

"Misalkan, di daerah membuat tenun untuk acara adat dengan warna-warna sederhana. Maka, kalau mau dijual ke kota harus ada kreatifitas, dengan warna cerah, atau jadi bahan baku benda lain. Misalkan satung bantal dan lainnya," jelas Hari.

Kedua, konsistensi pada kualitas dan ketersediaan barang. Ketiga yakni, adanya distribusi yang baik.

"Untuk berjualan dengan sistem daring atau online maka harus ada kerja sama dengan biro pengiriman seperti Pos Indonesia dan lainnya," katanya.

Hari menyebut, produk ekraf cukup menjanjikan, karena berdasarkan data Bekraf, sektor ini menyumbang 7,44 persen pada Produk Bruto Domestik (PDB).

Bahkan, dibandingkan negara lain seperi Rusia, Singapura, Filipina, dan Kanada, Indonesia cukup unggul. 

"Produk ekraf Rusia hanya menyumbang 6,06 persen kepada PDB, Singapura 5,70 persen. Filipina 4,92 persen dan Kanada hanya 4,50 persen pada PDB," tuturnya.

Adapun sub sektor yang berkontribusi yakni kuliner 41,4 persen, fesyen 18,1 persen, kriya 15,4 persen, tv dan radio 8,27 persen, penerbitan 6,32 persen, arsitektur 2,34 persen, aplikasi dan game developer 1,86 persen, periklanan 0,81 persen.

"Pada 2016 kontribusinya mencapai Rp922,59 triliun," ungkapnya.


 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)