logo rilis

Begini Cara IKM Ikut Jaga Stabilitas Harga Jelang Lebaran
Kontributor

12 April 2018, 19:58 WIB
Begini Cara IKM Ikut Jaga Stabilitas Harga Jelang Lebaran
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Devi Maharani sebagai salah satu penggiat Industri Kecil dan Menengah (IKM), pagi ini (12/4/2018) tengah memproduksi minyak rempah berbasis bawang merah dan cabai rawit, di mana produk olahan tersebut kini menjadi sumber nafkahnya. Seperti biasa, bahan baku yang ia siapkan telah dibeli dari pemasok langganan di Bogor.

Sekali produksi, Devi mampu menghasilkan pasokan barang dagangannya untuk tiga bulan ke depan. Ini lantaran, ia memprediksi dalam 2-3 bulan ke depan harga bawang dan cabai yang saat ini berkisar Rp25.000-30.000 per kilogram bakal meningkat. Ini menjadi strateginya agar harga barang dagangannya tetap stabil meskipun bahan baku meningkat.

Sejak 2017, Devi menambah variasi produknya dengan produk minyak rempah. Memang belum banyak yang terbiasa dengan produk yang terkesan instant ini. Namun, berdasarkan nilai penjualan, konsumen minyak bawang atau minyak cabai milik Devi cenderung mengalami peningkatan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa pergeseran pola konsumsi pangan saat ini juga mendambakan kepraktisan dalam penggunaannya.

Lebih daripada itu, olahan minyak bawang dan cabai sebenarnya dapat menjadi jurus jitu antisipasi fluktuasi, baik dari sisi produksi maupun harga. Penyebab fluktuasi harga bahan pangan, bisa terjadi saat cuaca berubah ekstrim, sehingga produksi menurun atau pada saat permintaan meningkat, khususnya menjelang hari raya.

Ciri khas dari hasil pertanian yang mudah rusak, busuk, dan cukup sulit dalam penyimpanan serta distribusi, maka mau tidak mau harus mendapatkan penanganan khusus. Sudah menjadi tugas dari lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) bidang pertanian untuk menghasilkan teknologi yang tepat guna, termasuk dalam penanganan sifat hasil pertanian tersebut.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Balitbangtan, telah merilis salah satu teknologi pascapanen dengan komoditas bawang merah dan cabai yang kini menjadi produk andalan Devi. Minyak bawang merah dan minyak cabai diperoleh dari hasil penelitian yang tergolong sederhana namun tetap memperhatikan kualitas atau sifat asli bahan baku utama.

“Komposisi produk memang dominan minyak, tapi minyaknya sudah mengadung senyawa berupa nutrisi dan flavour yang ada di bawang merah atau cabai. Hal ini karena, treatment produksi diatur pada tingkatan tertentu, sehingga tidak menghancurkan kandungan nutrisi bawang merah atau cabai. Menggunakan minyak bawang merah atau cabai, sama seperti menggunakan bahan mentah”, papar Peneliti Penghasil Teknologi dari BB Pascapanen, Sari Intan Kailaku.

Berdasarkan data hasil penelitian olahan pascapanen atau umur simpan produk dapat memperpanjang hingga 6-12 bulan. Devi menganggap, dirinya beruntung dapat mengadopsi teknologi tersebut, melalui salah satu program diseminasi Balitbangtan yakni Inkubator Teknologi Balitbangtan yang menyasar IKM sebagai mitra binaan.

Kepala Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (Balai PATP) Retno Sri Hartati Mulyandari mengatakan, bahwa Balitbangtan terus melakukan upaya percepatan pemanfaatan teknologi yang selama ini telah dihasilkan. Harapannya, teknologi tersebut tak hanya untuk mendongkrak perekonomian, tapi menjamah hingga ke lini end user atau konsumen. Dengan begitu, konsumen akan dimudahkan tanpa perlu mengiris bawang atau mengulek cabai lagi, cukup pakai olahannya saja. Terpenting, peran IKM dalam menjaga stabilitas harga, mampu membuat konsumen tak lagi takut kekurangan, apalagi harus membayar mahal barang kebutuhan menjelang Ramadhan.

Sumber: Morina Pasaribu/Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)