logo rilis
Begini Cara Balitbangtan Atasi Masalah Petani Kentang
Kontributor
Intan Nirmala Sari
31 Maret 2018, 15:15 WIB
Begini Cara Balitbangtan Atasi Masalah Petani Kentang
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus menghasilkan dan mendiseminasikan berbagai teknologi, agar dapat diadopsi pengguna. Salah satunya, dengan memberikan informasi teknologi kepada berbagai pihak yang melakukan kunjungan.

Pada Kamis (29/3/2018), BB Biogen yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Balitbangtan, menerima kunjungan Koordinator Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (KBTPH) Kledung, Jawa Tengah (Jateng), Wardoyo.

Kunjungan tersebut, dalam rangka menjajaki kemungkinan untuk belajar dan mengadopsi teknologi yang digunakan Balitbangtan dalam mengatasi masalah pertanian produksi dan tingginya serangan  penyakit, khususnya pada tanaman kentang yang disebabkan Phytophthora infestans.

Kunjungan itu disambut oleh Kabid Kerja Sama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian (KSPHP) Sustiprijatno dan Ketua Kelompok Peneliti Biologi Sel Jaringan (Kelti BSJ) Ika Roostika di Gedung A, BB Biogen Kota Bogor.

Dalam pertemuan itu, komoditas utama yang dibahas adalah kentang. Kentang, merupakan salah salah satu komoditas hortikultura yang paling diminati oleh para petani di Jawa Tengah (Jateng) khususnya di Wonosobo, Dieng dan sekitarnya. Jumlah benih yang mampu dihasilkan Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Surakarta hanya 50 persen dari total kebutuhan sebanyak 100 ton per tahun. Untuk itu, diharapkan dukungan Balitbangtan untuk memenuhi kebutuhan benih kentang tersebut. 

Menurut Wardoyo, salah satu masalah yang dihadapi petani kentang di daerahnya adalah Phytophthora infestans, sebagai penyebab penyakit hawar daun atau busuk daun pada tanaman kentang. Pengendalian selama ini dilakukan menggunakan pestisida, namun membutuhkan biaya tinggi dan berdampak negatif terhadap lingkungan dan mengganggu kesehatan hewan dan manusia.

“Kami mendapat informasi, bahwa BB Biogen telah menerapkan teknologi dengan transgenik atau transformasi gen dari kentang liar ke dalam kentang budidaya, untuk ketahanan terhadap Phytophthora infestans. Kalau bisa diterapkan di tempat kami, artinya sangat menguntungkan bagi para petani sana," ungkap Wardoyo.

Pada kesempatan itu, Ika Roostika menjelaskan tentang produk rekayasa genetika tanaman kentang tahan terhadap Phytophthora infestans yang sedang dikembangkan oleh Balitbangtan tersebut. Saat ini, sudah dinyatakan aman pangan oleh Badan POM dan dalam taraf pengkajian keamanan lingkungan Tim Teknis Keamanan Hayati.

“Dalam waktu dekat, produk rekayasa genetika tersebut akan didaftarkan setelah dinyatakan aman pangan dan lingkungan. Setelah lolos proses pendaftaran, kentang tersebut baru dapat dikembangkan, dan produksi benihnya bisa diperbanyak petani melalui pihak Kebun Benih Kledung juga pihak penangkar lainnya,” ujar Ika Roostika.

Selain itu, Ika Roostika juga menyebutkan, adanya alternatif lain dalam pengendalian Phytophthora infestans yang dikembangkan oleh BB Biogen, yaitu penggunaan biostimulan yang berguna untuk peningkatan imunitas dari tanaman.

Teknologi-teknologi tersebut, sangat menarik dan ditunggu-tunggu kehadirannya agar bisa diterapkan petani. Dengan penerapan teknologi-teknologi tersebut, diharapkan berbagai masalah yang dihadapi petani khususnya dalam bertani kentang khususnya, dapat diatasi dan akhirnya pendapatan petani pun bisa meningkat.

Sumber: Humas Balitbangtan


500
komentar (0)