logo rilis
Beda Kubu Sama Laku
kontributor kontributor
Arif Budiman
30 Januari 2018, 20:20 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Beda Kubu Sama Laku

BENCI ini punya kita. Begitu pula cinta. Kita sama memilikinya. Hanya berbeda letak arahnya. Apa yang aku benci, justru itulah yang kamu cintai. Sebaliknya, apa yang aku cintai justru itulah yang kamu benci.

Kita berbeda dalam menatap. Aku menuju barat, sementara kamu memandang Timur. Aku merangkul utara, sedangkan kamu mendekap selatan. Namun, kita sama dalam cara memicingkan mata. Kita sama dalam merangkai kata. Kita sama dalam ekspresi benci dan cinta.

Entah bagaimana setan menjadi dua. Malaikat pun berwujud ganda. Malaikatmu jadi setanku. Setanmu adalah malaikatku. Masing-masing kita memuji. Masing-masing kita memaki. Setiap hari. 

Kosakata kita sama. Tersusun rancak dalam kalimat berirama. Tergelar dalam ruang terbuka. Beradu dalam puja dan cela. Menjunjung egoku setinggi-tingginya. Membanting harga dirimu serendah-rendahnya. Sambil tertawa. Tanpa jelas maksud bahaknya.

Lalu kita bertemu. Dalam perhelatan yang kaku. Saling menyalam. Bertukar sapa terbata-bata. Mengenang sumpah serapah di waktu yang lewat. Menyesali benci yang bermukim di hati. Menelan ludah di kerongkongan yang kering. Menertawai luka yang sama diderita.

Kita adalah representasi. Dari masyarakat kita yang terbagi. Berhadapan secara diametral. Demi sesuatu yang jauh dari ideologi, namun sangat dekat dengan periuk nasi. Kita mengorbankan kohesi. Untuk kompensasi yang tak lebih sumir dari ilusi.

Atas nama segala apa yang ada di langit dan di bumi, kita merawat kristal benci. Tenggelam dalam romantisme abadi, menolak setiap kebaruan yang hadir di masa kini. Hanya karena masa lalu dipenuhi malaikatmu dan setanku, sementara masa kini dijejali malaikatku dan setanmu. Padahal, masa lalu dan masa kini terentang pada bentang waktu yang tak berbeda. 

Lalu siapa sebenarnya kita? Makhluk pengembara yang terjangkit megalomaniak kah? Ataukah manusia yang tak sempurna struktur kepribadiannya?

Dalam relasi struktur kepribadian id-ego-superego yang mapan, setiap manusia mengandalkan superego untuk mengendalikan kehendak naluriahnya. Impuls instingtif boleh saja bebas bergerak untuk membisik. Menuntut ego memenuhi kepuasan naluriahnya yang liar. Namun, superego harus diberi ruang. Memainkan perannya pada saat dibutuhkan. Utamanya ketika kepuasan manusia didapat melalui cara kekerasan, baik fisik maupun verbal. 

Kita sama punya benci. Kita sama punya cinta. Kemampuan superego kita menahan gerak liar id yang bersenyawa dengan ego akan menentukan beda kita. Sekarang, mari sama-sama kita berkaca.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID