Home » Bisnis

Bebas AI, Papua Bisa Ekspor Unggas ke Negara Tetangga

print this page Selasa, 14/11/2017 | 14:00

Unggas Binaan PKH Kementan. FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Jakarta— Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan status kesehatan hewan dengan program pengendalian penyakit, khususnya Avian Influenza (AI). Sebab, status kesehatan hewan menjadi persyaratan utama serta menjadi salah satu daya saing dalam perdagangan internasional. 

"Dalam rangka program pengendalian penyakit Avian Influenza (AI) di Indonesia, maka Ditjen PKH Kementan mengambil langkah kebijakan dengan melakukan pembebasan melalui kompartemen, zona, pulau atau provinsi," kata Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Fadjar Sumping, di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Pemerintah, menurutnya, telah mengeluarkan sebanyak 55 sertifikat kompartemen bebas AI untuk peternakan pembibitan (breeding farm) aktif. Diantaranya, Maluku Utara (2015) dan Maluku (2016). Sejak 2015, bahkan berhasil membebaskan Pulau Madura dari penyakit Brucella.

"Kini menyusul satu langkah maju kembali dicapai di bidang kesehatan hewan dan usaha perunggasan nasional dengan telah diterbitkannya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 600/Kpts/PK320/9/2017 tentang Provinsi Papua sebagai Zona Wilayah Bebas Penyakit AI pada unggas," bebernya.
 
Fadjar menjelaskan, hal tersebut merupakan puncak kerja keras dan pencapaian yang luar biasa dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua dan kabupaten/kota se-Papua. Begitu pun Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros selaku Unit Pelaksana Teknis Kementan di timur Indonesia.

Sebagaimana pemenuhan persyaratan OIE (Badan Kesehatan Hewan Dunia) dan Permentan Nomor 28 Tahun 2008 tentang Penataan Kompartementalisasi dan Zonasi, Papua telah melaksanakan pengendalian dan pemberantasan penyakit AI. Kemudian melakukan surveilans sebagai pembuktian bebas AI oleh Balai Besar Veteriner Maros (BBVet) Maros selang 2015 -Juli 2017. 

"Berdasarkan hasil surveilans selama dua tahun tersebut, tidak ditemukan kasus AI di Provinsi Papua, baik laporan kasus sindromik yang mengarah pada penyakit AI maupun pengujian virologi," ungkap Fadjar.

"Dengan telah menyandang status bebas AI tersebut, maka beberapa keuntungan dan peluang pengembangan usaha perunggasan di wilayah Papua semakin aman dalam aspek kesehatan unggas dan peluang pasar lebih terbuka secara luas baik domestik maupun internasional," tambahnya.

Dampak positif lain dari capaian bebas AI di Papua adalah berkontribusi menjaga kelestarian dan keamanan hayati. Soalnya, risiko terjangkitnya penyakit AI terhadap populasi cenderawasih, kekayaan fauna asli Papua, sudah bisa dicegah dan diminimalisir.

Keunggulan Papua

Kata Fadjar, Papua memiliki nilai strategis dalam penguatan status kesehatan unggas guna pengembangan pertumbuhan sentra baru usaha untuk pemenuhan kebutuhan telur dan daging. Sebab, berbatasan dengan negara lain.

"Sebagai provinsi yang berbatasan dengan negara Papua New Guinea (PNG), maka, mulai saat ini dari Provinsi Papua terbuka luas untuk mengekspor unggas dan produk unggasnya ke negara tetangga tersebut," ucapnya. Optimisme kian besar, lantaran sudah dilakukan harmonisasi persyaratan sanitary dengan otoritas veteriner PNG.

"Selain Negara PNG, juga ke depan lebih terbuka peluang bagi beberapa Negara kepulauan di wilayah Pasifik," pungkas Fadjar. Kebijakan tersebut dilakukan sesuai Nawacita pemerintah.

Penulis Fatah H Sidik
Editor Sukarjito

Tags:

KementanPKHMentan

loading...