logo rilis

Bea Masuk Anti-Dumping Ancam Industri Mamin
Kontributor
Elvi R
20 April 2018, 10:24 WIB
Bea Masuk Anti-Dumping Ancam Industri Mamin
Juru Bicara FLAIMM Rachmat Hidayat bersama Peneliti CORE. FOTO:RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta— Rencana pengenaan Bea Masuk Anti Dumping bagi impor bahan baku kemasan (Polyethylene Terephtalate/PET) dari tiga negara mengancam industri makanan dan minuman dalam negeri. Forum Lintas Asosiasi Makanan Minuman Indonesia (FLAIMM) menyatakan, harga makanan dan minuman hasil produksi industri dalam negeri terancam naik. 

Juru Bicara FLAIMM Rachmat Hidayat mengatakan, pengenaan BMAD PET akan meningkatkan biaya impor bahan baku plastik dan berdampak pada naiknya struktur biaya produksi. Rencana pembebanan BMAD PET berawal dari usulan Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI).

"biaya bahan baku kemasan plastik memiliki porsi 20-70 persen terhadap total biaya produksi. Ini akan menyebabkan biaya industri makanan minuman meningkat dan memaksa industri meningkatkan harga jual,” kata Rachmat di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Rachmat menjelaskan, saat ini mayoritas industri mamin berskala Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Karakteristik UKM membuatnya sensitif terhadap perubahan harga bahan baku. Dikhawatirkan kenaikan BMAD PET akan mengguncang mereka. 

Saat ini, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, neraca perdagangan industri mamin rata-rata surplus hingga US$18 miliar per tahun. UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional. 

"Penolakan FLAIMM terhadap BMAD PET bukan berarti industri mamin menolak produksi lokal. Namun, Harga PET domestik jauh lebih mahal. Kualitas dan stabilitas pasokan juga masih kalah. Logikanya kami tidak akan impor kalau ada di dalam negeri,” jelas Rachmat.

Anehnya, hasil penelusuran FLAIMM menunjukkan harga ekspor PET dari Indonesia lebih murah ketimbang harga PET yang diimpor industri mamin. Sesuai data UN Comtrade, rata-rata harga ekspor PET Indonesia hanya US$1.383 per ton sedangkan harga impor PET mencapai US$1.600 per ton.  

Selama setahun, rata-rata produksi PET lokal mencapai 499 ribu ton sedangkan kebutuhan industri dalam negeri hanya 200 ribu ton. Dari total kebutuhan itu industri mamin harus mengimpor sekitar 40 persen. Hal itu menunjukkan mayoritas produksi PET lokal di ekspor dan hanya sekitar 120 ribu ton yang dipasok untuk kebutuhan domestik.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)