logo rilis

Bawaslu: Banyak Akun Media Sosial Kampanye Tak Dilaporkan ke KPU
Kontributor
Sukma Alam
08 Mei 2018, 02:02 WIB
Bawaslu: Banyak Akun Media Sosial Kampanye Tak Dilaporkan ke KPU
Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan mengatakan, akun media sosial untuk kampanye yang tidak dilaporkan ke Komisi Pemilihan Umum jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan yang didaftarkan.

"Yang kami ketahui, lebih banyak akun yang tidak didaftarkan daripada yang terdaftar. Ini yang menjadi persoalan," ujar Abhan di Kantor Bawaslu, Jakarta, Senin (7/5/2018).

Padahal, menurut dia, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, serta Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu telah mengatur bahwa akun yang akan digunakan untuk kampanye harus didaftarkan ke penyelenggara pemilu.

Tidak hanya dilaporkan, produk hukum itu juga sebenarnya membatasi jumlah akun kampanye setiap kandidat.

"Kalau media mainstream sudah jelas penanganan pelanggarannya. Media cetak ke Dewan Pers dan media elektronik ke Komisi Penyiaran Indonesia. Media sosial ini yang jadi masalah," tutur dia.

Ia menjelaskan, media sosial saat ini memilki peran besar dalam memengaruhi masyarakat sehingga penggunaannya perlu diatur untuk menyebarkan nilai-nilai positif.

Karena itu, akun media sosial yang juga alat kampanye pemilu terindikasi melakukan pelanggaran, di antaranya menyebarkan ujaran kebencian atau berita bohong, maka ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menangani masalah tersebut.

"Bisa pendekatan hukum pidana pemilu, bisa juga dengan hukum pidana khusus, yaitu tindak pidana cyber crime, tapi kan tidak semua dapat dijangkau dengan ketentuan di UU Pilkada dan UU Pemilu. Oleh karena itu, polisi bisa bergerak dengan berdasar pada UU ITE," terang Abhan.

Selain penindakan, ia mengatakan pihaknya bersama dengan KPU serta Kementerian Komunikasi dan Informatika saat ini juga terus berupaya mencegah tumbuhnya akun-akun media sosial yang dinilai dapat mengganggu pelaksanaan pesta demokrasi.

"Bawaslu sekarang punya kewenangan untuk take down akun yang menyebarkan ujaran kebencian. Sampai saat ini sudah ada puluhan akun yang kami minta kepada Facebook untuk dihentikan karena ada unsur tersebut," tutur Abhan.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)