logo rilis
Bantah Pencucian Uang, Rita: Saya Punya Tambang Banyak
Kontributor
Tari Oktaviani
19 Januari 2018, 18:56 WIB
berita
Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) non aktif, Rita Widyasari di Gedung KPK. FOTO: RILIS.ID/Tari Oktaviani

RILIS.ID, Jakarta— Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif, Rita Widyasari, membantah uang senilai Rp436 miliar merupakan hasil pencucian uang suap dan gratifikasinya. 

Ia menyebut uang itu berasal dari hasil usaha tambang miliknya.

"Beliau (penyidik) sampaikan bilang Rp436 miliar itu adalah angka aset saya, yang mana salah satunya itu aset saya. Saya kan punya tambang," katanya di gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Rita menyebut dirinya memiliki banyak usaha tambang batubara di Kukar. Bahkan, tambang-tambang lain yang tersebar juga dimiliki oleh keluarganya.

"Di Kutai saya punya tambang. Ibu saya punya tambang. Kakak saya punya tambang, jadi itulah yang dinilai," tegasnya.

Sebelumnya, Rita Widyasari (RIW) dan Komisaris PT Media Bangun Bersama, Khairudin (KHR) harus menelan kenyataan pahit lantaran kembali ditetapkan sebagai tersangka. 

Kali ini KPK menjerat mereka dengan tindak pidana pencucian uang.

Keduanya diduga mencuci uang dari hasil tindak pidana korupsi dan gratifikasi dalam sejumlah proyek dan perizinan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang nilainya mencapai Rp436 miliar. 

"Diduga TPPU dilakukan tersangka RIW (Rita Widyasari) bersama-sama KHR (Khairudin) selama periode jabatan RIW sebagai Bupati Kutai Kartanegara. (Jumlah) mungkin bertambah setelah penyidikan TPPU itu berlangsung," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/1) lalu.

Penyidik menemukan indikasi kuat keduanya telah membelanjakan penerimaan hasil gratifikasi dan suap untuk membeli kendaraan. 

Adapun untuk menyamarkan tindak pidana korupsinya, Rita dan Khairudin menggunakan nama orang lain baik dalam membeli sejumlah kendaraan mewah dan tanah. 

"Salah satunya penyamaran itu dilakukan dengan menggunakan nama orang lain," ujarnya. 

Penyidik KPK pun telah menyita sejumlah aset milik Rita berupa tiga unit mobil, yaitu Toyota Vellfire, Ford Everest dan Land Cruiser. Kemudian dua unit Apartemen di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selain itu sejumlah dokumen dan transaksi keuangan atas indikasi penerimaan gratifikasi, serta dokumen perizinan lokasi perkebunan Kelapa Sawit dan proyek-proyek di Kukar juga ikut disita KPK.  

"Karena indikasinya kuat sekali, pemberian izin-izin yang berhubungan, baik itu sawit dan juga sumber daya yang lain, dan juga berhubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan RIW dan KHR," kata Syarif. 

Atas perbuatannya itu, Rita dan Khairudin disangkakan melanggar Pasal 3 dan atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP. 

Sebelumnya Rita dan Khairudin telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap dan gratifikasi bersama Direktur Utama PT Sawit Golden Prima, Hery Susanto Gun alias Abun. 

Untuk kasus yang pertama, Rita diduga menerima suap sebesar Rp6 miliar dari Abun terkait pemberian izin operasi untuk keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit PT Sawit Golden Prima di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, Kukar.

Sementara, kasus dugaan gratifikasi, Rita bersama Khairudin diduga menerima uang sekitar Rp6,97 miliar terkait dengan sejumlah proyek di Kukar. 

KPK sudah melakukan penyitaan terhadap sejumlah aset Rita, mulai dari mobil hingga apartemen.

Tags
#Korupsi
#KPK
#Kukar
#Rita Widyasari
#Tambang
#Gratifikasi
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)