logo rilis
Bantah Aris Budiman, KPK Akui Sudah Periksa Saksi Kunci e-KTP
Kontributor
Tari Oktaviani
08 April 2018, 11:11 WIB
Bantah Aris Budiman, KPK Akui Sudah Periksa Saksi Kunci e-KTP
Jubir KPK Febri Diansyah dan Pimpinan KPK Basaria Pandjaitan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah, membantah pihaknya tidak pernah memeriksa saksi kunci kasus korupsi e-KTP, Johanes Marliem. Menurutnya, penyidikik sudah memeriksa Bos Biomorf Mauritius itu di Amerika Serikat, melalui Federal Bureau of Investigation (FBI).

"Itu tidak benar. Dulu tim kami pernah ada yang terbang ke Amerika dan kami bekerjasama dengan FBI sebab wilayahnya di Amerika yang pada prinsipnya berbeda aspek hukum acaranya dengan Indonesia," ungkap Febri kepada rilis.id, Jakarta, Minggu (8/4/2018).

Ia menerangkan, bukti pemeriksaan Johanes Marliem oleh FBI juga pernah diputar dalam persidangan. Bahkan, berkat keterangan Johanes Marliem sebelum meninggal lah, KPK hingga kini bisa memproses banyak pihak.

"Kasusnya sudah bergulir. Sudah memproses Setya Novanto dan pihak lain. Prosesnya pemeriksaannya seperti apa saya kira sudah terbuka, misal apa saja yang disita ada ribuan alat bukti," terangnya.

Febri enggan menjawab terkait adanya konflik internal di KPK. Menurutnya, perdebatan dalam mengusut kasus di ruang diskusi sudah menjadi hal yang biasa.

"Kalau ada diskusi perbedaan pendapat dalam proses penanganan perkara harus diuji berulang kali wajar saja. Kalau ada proses 1 pihak setuju dengan 1 keputusan lalu yang lain tidak setuju lalu ada proses diskusi jawab menjawab," ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan KPK, Brigjen Pol Aris Budiman, mengungkap bahwa salah satu saksi kunci kasus korupsi e-KTP Johanes Marliem belum pernah diperiksa penyidik. Hal ini lantaran tidak adanya sinergitas di internal KPK.

"Johannes Marliem tidak pernah diperiksa anda bisa cek ucapan saya bisa akan beresiko hukum bagi saya," katanya di gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/4).

Aris pun menceritakan penanganan kasus perkara e-KTP saat ia masuk pada 16 September 2015.

Menurut Aris, saat itu pelaksana tugas Direktur Penuntutan Supardi, meminta kepadanya untuk memasukkan beberapa jaksa penuntut dalam tim penyidik kasus e-KTP. Berkatnya, penanganan kasus e-KTP dinilainya terus berkembang hingga saat ini padahal sebelumnya perkara itu sempat mandek.

"Perkara sudah berjalan dua tahun. Berulang kali kami gelar (gelar perkara), tapi itu tidak jalan," kata Aris.

Tak hanya itu saja, Aris pun mengungkap pihakya tidak pernah menggeledah perusahaan Johannes, Biomorf Lone Mauritius. Padahal, Johannes dan perusahaannya memiliki peran penting dalam korupsi e-KTP yang merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun tersebut. Bahkan, ia membandingkan dengan pengusutan di lembaga penegak hukum lain.

"Perusahaan Johannes Marliem yang namanya Biomorf tidak pernah digeledah padahal sudah dimintakan surat penetapan penggeledahan. Kantor Polri, penegak hukum, digeledah. Kenapa satu lembaga ini (Biomorf) tidak digeledah? Ada apa? Itu pertanyaan-pertanyaan bagi saya semuanya, dari jilid satu," papar Aris.

Editor: Taufiqurrohman


500
komentar (0)