logo rilis
Balittro Siap Dukung Program Pemanfaatan Akar Wangi untuk Konservasi di Gunung Halimun
Kontributor
Elvi R
23 Januari 2020, 11:54 WIB
Balittro Siap Dukung Program Pemanfaatan Akar Wangi untuk Konservasi di Gunung Halimun
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Kawasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak memberi peringatan bagi kita untuk senantiasa peduli terhadap lingkungan. Kawasan hutan di  gunung Halimun yang seharusnya berupa hutan lindung menjadi daerah serapan air, kini telah berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman, pertanian bahkan bahkan menjadi kawasan tambang emas liar.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BNPB, Doni Monardo dan juga kesimpulan dari penelitian bersama Badan Geologi, Badan Informasi Geospasial dan LAPAN. 

Doni mengibaratkan, longsor tersebut seperti es krim yang meleleh dan jumlahnya mencapai ribuan titik.

"Oleh karena itu, untuk memulihkan kawasan hutan lindung gunung Halimun, Presiden Jokowi memerintahkan kepada BNPB untuk menyusun program tanggap bencana dengan membuat pilot project Revitalisasi DAS dan reforestasi hulu gunung Halimun," ungkapnya baru-baru ini.

Sebagai tindak lanjut arahan Presiden tersebut, BNPB mengundang para instansi terkait untuk bersama sama menyusun rencana aksi pilot project tersebut. Rapat koordinasi pada Selasa (21/1/2020) dihadiri oleh jajaran BNPB, Kementerian LHK, pemerintah daerah Kabupaten Bogor, serta  Balittro mewakili Kementerian Pertanian. Kegiatan koordinasi dimaksud bertujuan untuk membangun kerjasama dengan penanggulangan bencana Kabupaten Bogor dan Lebak, bersama segenap unsur instansi terkait dalam penanggulangan bencana yang meliputi pencegahan resiko timbulnya bencana susulan sekaligus untuk rehabilitasi lahan.

Dalam sambutannya Kepala BNPB menyampaikan bahwa salah satu program perbaikan pasca bencana longsor adalah melalui vegetasi tanaman menggunakan sistem vetiver.

"Yaitu sistem konservasi tanah dan air yang komponen utamanya penggunaan tanaman akar wangi," kata Doni.

Sistem Vetiver digunakan di lebih dari 100 negara untuk konservasi tanah dan air, pengendalian polusi, pengolahan air limbah, mitigasi dan rehabilitasi,  pengendalian sedimen, dan berbagai perlindungan lingkungan lainnya.

Kepala Balittro, Dr. Evi Savitri Iriani, menyampaikan bahwa Badan Litbang Pertanian, pada 2012 telah melepas 2 varietas unggul akar wangi yaitu Verina 1 dan Verina 2, yang banyak dikembangkan untuk menghasilkan minyak atsiri. Namun bila varietas akar wangi tersebut dibiarkan dan tidak dipanen maka akarnya akan tumbuh terus dan dapat berfungsi untuk konservasi.

"Untuk itu, saran saya untuk mencegah terjadinya pembongkaran, maka penanaman akar wangi harus multi komoditas baik kombinasi dengan tanaman tahunan yang juga produktif yang bisa memberikan penghasilan bagi masyarakat seperti kayumanis, kayuputih, macadamia, kopi atau juga bisa dikombinasikan dengan serai wangi yang juga memiliki kemampuan untuk konservasi lahan," paparnya.

Balittro sudah melakukan ujicoba pertanaman untuk konservasi lahan di Kawasan danau Singkarak serta Sawahlunto.  

Pada kesempatan itu pula beberapa narasumber menyampaikan paparannya terkait kesiapannya mendukung program rehabilitasi lahan tersebut di antaranya dr Yayasan Budiasi yang siap dengan benih akar wangi.

KLHK juga melalui penyediaan benih akar wangi dan tanaman hutan, PT Sidomuncul yang akan membantu benih tanaman herbal bagi para petani terdampak. 

Balittro diharapkan melalui Balitbangtan akan mendukung melalui penyediaan benih tanaman yang produktif. 

Di akhir sambutannya, Doni Kepala BNPB merasa sangat senang dengan sinergi dan kerjasama dari berbagai instansi untuk mendukung terlaksananya pilot project rehabilitasi lahan melalui revitalisasi DAS dan reforestasi hulu Halimun.

Selanjutnya pada saat pelaksanaan nanti, dukungan dari pihak TNI, Polisi, Pemda, Relawan, Pecinta alam, masyarakat sangat dibutuhkan terutama untuk penanaman di lereng lereng terjal yang ada di Kawasan gunung Halimun.

Sumber: Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID