logo rilis
Balitbangtan Respons Program Kabinet Baru
Kontributor
Elvi R
03 November 2019, 14:42 WIB
Balitbangtan Respons Program Kabinet Baru
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Bogor— Badan Litbang Kementerian Pertanian merespon cepat program Pengembangan Sumberdaya Manusia yang menjadi fokus Presiden Joko Widodo di Kabinet Indonesia Maju.

"Tiga tahun ke depan kita berharap pegawai di Balitbangtan menjadi smart ASN dan multitalent," kata kepala bagian kepegawaian Balitbangtan, Wahid Bambang Gunawan, MSi di Bogor beberapa waktu ini.

Pada 2019 Balitbangtan menugaskan 55 orang petugas belajar di berbagai universitas negeri seperti IPB, ITB, UI, dan Unpad dari lebih 350 pelamar.

"Seleksi melibatkan sejumlah psikolog dari kampus negeri," kata Wahid.

Untuk mengawal mereka Balitbangtan akan menggandeng universitas melalui kerja sama yang lebih formal agar dapat melakukan monitoring bersama para petugas belajar Balitbangtan di kampus-kampus ternama.

"Selama ini monitoring hanya dilakukan pokja internal Balitbangtan, sementara dari kampus belum dilakukan secara formal," kata Wahid. 

Dengan kerja sama secara formal kampus juga dapat memonitoring petugas belajar secara reguler misal per 3-6 bulan.

"Dekan dan Ketua Program Studi bisa ikut mengevaluasi dan mendampingi petugas belajar secara langsung. Selama ini bimbingan langsung biasanya hanya oleh dosen pembimbing secara personal," kata Dekan Pascasarjana IPB, Anas Miftah Fauzi, dalam pembekalan petugas belajar Baltbangtan.

Pada konteks IPB kerja sama formal sering dilakukan dengan pemda dan kementerian melalui beasiswa pada program khusus. 

Upaya kerja sama Balitbangtan dengan kampus secara formal merupakan langkah terobosan agar petugas belajar dapat selesai tepat waktu.

"Ini perlu didukung agar sumberdaya peneliti dapat terus meningkat," kata Ketua Forum Mahasiswa Balitbangtan Jawa Barat, Destika Cahyana. 

Menurut Destika, sebetulnya dalam 5 tahun terakhir fasilitas yang diberikan Balitbangtan terhadap para petugas belajar sudah jauh lebih baik dibandingkan 10-15 tahun silam.

"Dulu seringkali terdengar beasiswa dalam negeri turun terlambat. Kini seringkali malah premature turun lebih dahulu," kata Destika.

Sumber: Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID