logo rilis

Balitbangtan Kenalkan Teknologi Penyiapan Lahan Tanpa Bakar ke Petani Kalteng
Kontributor
Elvi R
21 Januari 2020, 11:26 WIB
Balitbangtan Kenalkan Teknologi Penyiapan Lahan Tanpa Bakar ke Petani Kalteng
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Kotawaringin Barat— Kebiasaan petani, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah dalam penyiapan lahan dengan cara membakar telah memberikan dampak negatif yang cukup besar, seperti kebakaran lahan. Sehingga, pemerintah pun telah menerbitkan peraturan pemerintah mengenai larangan pembukaan dan penyiapan lahan dengan cara membakar.

Menyikapi hal ini, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian mengenalkan teknologi alternatif penyiapan lahan tanpa bakar melalui serangkaian kegiatan demo plot yang telah dilakukan sejak 2 tahun terakhir di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. 

Kegiatan ini telah menunjukkan hasil, Sabtu (18/1) lalu telah dilaksanakan Syukuran Panen Padi, Demplot Pembukaan Lahan Tanpa Bakar oleh Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat Hj. Nurhidayah, SH., MH. Dalam sambutannya, Nurhidayah menghimbau kepada Petani yang hadir untuk mengadopsi teknologi yang telah didemokan oleh Tim Balai Penelitian Tanah, Balitbangtan.

"Saya berharap demplot PLTB tersebut dapat menjadi contoh bagi petani di Kabupaten Kobar, karena setelah dilakukan inovasi terhadap lahan di daerah ini dengan PLTB dapat dihasilkan potensi ekonomi yang luar biasa," ungkapnya. Hadir pula dalam acara ini Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc beserta tim penelitinya.

Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Ladiyani Retno Widowati, MSc. mengatakan bahwa pilihan paket teknologi telah tersedia. "Kombinasi teknologi tanpa bakar, dengan memanfaatkan tanaman-tanaman hasil pembersihan ladang menjadi kompos yang dipercepat dekomposisinya dengan dekomposer unggul dan amelioran serta dipupuk organik dan anorganik sesuai target hasil, menjadi pilihan terbaik," tambahnya.

Menurut Ladiyani, masalah utama yang dihadapi petani untuk mengembangkan pertanian adalah tingkat kemasaman tanah yang tinggi karena tanahnya tergolong tanah sulfat masam. Sehingga teknologi persiapan lahan tanpa bakar yang sesuai salah satunya adalah ameliorasi menggunakan kapur sebagai pengganti abu hasil pembakaran. 

"Selanjutnya, banyaknya volume sisa tanaman setelah semak-semak ditebas dimanfaatkan dengan cara dikomposkan dan dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik." terangnya. 

Proses selanjutnya adalah tunggul kayu yang keluar dari lahan pada saat proses pengolahan lahan dan ranting-ranting yang cukup besar diproses menjadi biochar melalui pembakaran terkendali. Biochar yang dihasilkan dicampur dengan kompos sehingga kualitasnya menjadi lebih baik.

"Kedua teknologi tersebut diterapkan secara simultan untuk mengatasi masalah tanah dan perbaikan pertumbuhan tanaman." lanjut Ladiyani.

Paket teknologi yang diaplikasikan dalam demplot persiapan dan pengelolaan lahan tanpa bakar merujuk pada karakteristik tanah dan kendala yang dihadapi. Yaitu penyiapan lahan dengan cara tebas semak belukar, sisa tanaman dikomposkan dengan dekomposer. Kompos dijadikan sebagai sumber pupuk organik.
 
Selanjutnya adalah ameliorasi lahan dengan menggunakan kapur sebagai pengganti abu untuk meningkatkan pH tanah, menetralkan unsur-unsur beracun. Pengelolaan air juga dilakukan dengan membuat saluran tersier, tanggul banjir dan perataan tanah. 

Sementara untuk pengelolaan hara dengan pemupukan menggunakan NPK majemuk sebagai sumber hara tanaman. Dilakukan pula pengelolaan gulma menggunakan herbisida sistemik dan herbisida kontak dan selektif, dan pengendalian hama secara preventif dan pemberantasan sesuai dengan jenis hama dan penyakit.

Lebih lanjut, Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kotawaringin Barat Ir. Kamaludin juga meminta agar Badan Litbang Pertanian tetap mengawal pengembangan lahan sulfat masam dengan inovasi teknologinya.

Dinas Pertanian dan Perkebunan juga terus mengajak dan menghimbau kepada petani di Desa Kumpai Batu Atas khususnya, dan Kabupaten Kotawaringin Barat agar lebih adaptif dengan inovasi pertanian yang tersedia. "Agar para petani dapat kreatif dan tidak mudah menyerah dengan kendala fisik lingkungan pertanian sekitar." tutup Kamaludin.

Sumber: LRW/M.Is/AFS/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID