Home » Bisnis

Balitbangtan Kementan Gelar Edu Coffe, Sasar Generasi Muda

print this page Selasa, 14/11/2017 | 09:42

Salah satu kopi inovasi Balittri Balitbangtan Kementan. FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Bogor— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar "Edu Coffee" di Kantor Balai Pengelola Ali Teknologi Pertanian (PATP), Bogor, Jawa Barat, Minggu (12/11/2017). Acara itu untuk mengedukasi masyarakat terkait kopi, seperti sejarah, varietas, hingga cara penyajian yang baik dan benar.

Kepala Balai PATP Balitbangtan Kementan, Retno Sri Hartati Mulyandari, menyatakan, acara tersebut menyasar generasi muda yang ingin menggeluti bisnis kopi. Apalagi, bisnis tersebut belakangan tumbuh subur di sejumlah kota besar dan banyak dirintis anak muda.

"Balitbangtan Kementan berkewajiban mendiseminasikan inovasi yang dimilikinya kepada masyarakat. Salah satunya, melalui penyelenggaraan Edu Coffee ini," ujarnya. Pada kegiatan itu, dihadiri sekitar 50 peserta dan mengundang Eka Pramudita dari Kemenady Cafe serta Elsera T dan Handy S dari Balittri sebagai pembicara.

Retno menerangkan, kopi menjadi produk agribisnis yang diusahakan Belanda untuk pasar ekspor sejak awal abad ke-17 hingga ke-19 (firts wave). Kala itu, lebih memprioritaskan kemasan, sehingga cita rasa tak diperhatikan.

Sekira abad ke-19 (second wave), sudah banyak dikenal penduduk dunia dan masyarakat menginginkan kopi nikmat serta mengetahui asal-usulnya. Pada era ini, kualitas kopi juga belum diperhatikan.

Seiring waktu sampai tahun 2010 (third wave), menjadi masa kebangkitan kopi dan ditandai dengan tertariknya para peminum terhadap kopi. Misalnya, asal-usul biji, proses, sampai cara penyajian. Mereka pun mulai kritis terhadap kopi yang rasanya buruk dan cara penyajiannya dianggap tak benar.

Sementara, Eka Pramudita menerangkan, kopi yang ada di pasaran sekarang cukup beragam. Arabika, misalnya, aroma floral tajam dan tingkat keasaman yang kuat. Lalu, robusta aromanya tak terlalu kuat, terasa sangat pahit, dan ada aroma khas seperti cokelat.

Untuk menyajikan kopi yang baik, katanya, biji yang telah disangrai selanjutnya digiling dengan tingkat kehalusan yang diinginkan. Sebaiknya temperatur air tidak lebih dari 93 derajat Celcius. "Jika lebih dari 100 derajat Celcius, akan keluar aroma dan cita rasa yang tidak enak," jelasnya. Setelah diseduh, diamkan 3-5 menit dahulu. 

Saat praktik, Eka menggunakan kopi khas nusantara, seperti kopi Aceh Gayo, kopi Flores Bajawa, dan kopi Bogor. Dia juga memakai teknologi Balitbangtan, kopi Liberika Meranti, Arabika Pakuwon, dan Robusta Pakuwon.

Sedangkan Elsera dan Handy, mempresentasikan soal pascapanen kopi dan teknik penyimpanannya. Mereka berdua turut menyampaikan informasi teknologi Balitbangtan Kementan. Diantaranya, inovasi hulu-hilir, dari budidaya sampai produk siap konsumsi, yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Balitbangtan Kementan.

Penulis Fatah H Sidik
Editor Sukarjito

Tags:

KementanBalitbangtan KementanKopiBalai PATP

loading...